Vape dan Whip Pink: “Tren” yang Bisa Berubah Jadi Tragedi

Pengamat Dr. Devie Rahmawati
Pengamat Dr. Devie Rahmawati

Oleh: Dr. Devie Rahmawati

Ada satu pelajaran keras dari sejarah, bahwa ada zat yang dapat mengalahkan meriam, bahkan mampu merusak otak, ekonomi, dan legitimasi negara sekaligus. Itulah sebabnya narkoba bukan sekadar isu kriminalitas. Dalam skala tertentu menjadi:

– alat perang ekonomi (membuka pasar secara paksa);
– alat pelemahan sosial (membuat populasi “tumpul”);
– alat delegitimasi politik (membingkai negara sebagai “narco-state”);
– pemicu intervensi (dari sanksi hingga operasi keamanan).

Dan contoh paling “telanjang” dari semua itu adalah China dan Opium Wars. China pada abad ke-19 adalah contoh bahwa narkoba (Opium) bukan hanya “barang terlarang”, tetapi telah menjadi senjata ekonomi politik yang memicu konflik besar, meruntuhkan daya tahan masyarakat, dan meninggalkan luka panjang dalam memori kolektif bangsa. Pelajarannya sederhana bahwa jika sebuah zat berhasil melemahkan manusia, maka pada akhirnya zat tersebut juga bisa melemahkan negara.

Hari ini, kita hidup di era yang berbeda. Tidak ada lagi kapal opium yang masuk pelabuhan dengan bendera perang. Namun, ancaman itu tidak hilang, malah berevolusi dan menyamar menjadi produk gaya hidup.

Ketika ancaman tidak lagi “seram”, justru di situlah bahayanya. Dulu, kita mudah curiga pada benda yang “terlihat mencurigakan”. Sekarang, ancaman bisa tampil seperti benda yang wajar dan baik-baik, seperti perangkat kecil, aroma buah, desain modern. Vape menjadi contoh paling nyata bagaimana sesuatu yang tampak “tren” dapat berubah menjadi pintu masuk masalah kesehatan masyarakat.

Bukan kebetulan jika sejumlah negara mulai serius membatasi bahkan melarang vape, karena lonjakan penggunaannya pada anak dan remaja. Negara-negara dengan sistem kesehatan kuat bergerak bukan karena fobia, melainkan karena satu hal, yaitu pertaruhan generasi bahkan peradaban.

Mengapa Negara Bisa “Kalah” oleh Narkoba?
Karena narkoba menghantam negara di tiga mesin:

A. Mesin Otak (humancapital)

Ketika zat adiktif merusak kemampuan kognitif, emosi, dan kontrol diri, yang hancur bukan hanya individu, yang hancur adalah kualitas SDM: belajar, kerja, disiplin, produktivitas.

B. Mesin Ekonomi (shadow economy)

Perdagangan narkoba menciptakan ekonomi gelap yang:

menyuburkan korupsi;
merusak sistem usaha legal;
membiayai kelompok kriminal.
PBB sudah lama mengingatkan bahwa kelompok kriminal transnasional yang kuat dapat mendestabilisasi negara dan kawasan bila negara gagal membangun ketahanan institusional.

C. Mesin Legitimitas (trust)

Ketika publik melihat narkoba merajalela, kepercayaan pada negara turun. Saat trust turun, kepatuhan turun, dan ruang sindikat melebar. Itulah mengapa narkoba adalah ancaman sistemik, bukan sekadar pelanggaran individu.

Di sisi lain, muncul fenomena yang juga harus membuat kita berhenti “tertawa”, yaitu whip pink (nitrous oxide) yang sering dianggap sekadar “gas pesta dan tawa”.

Indonesia sedang berada di tikungan: pilih pencegahan sekarang atau panen krisis belakangan. Di negeri ini, risiko menjadi lebih kompleks karena dua hal.

Pertama, kecepatan adopsi tren. Anak muda Indonesia sangat cepat menyerap budaya populer global, dari mulai gaya, istilah, sampai perilaku. Ketika tren berisiko mulai dianggap “biasa,” perubahan sosial terjadi lebih cepat daripada kemampuan orang dewasa untuk menyadarinya.

Kedua, ekonomi digital mempercepat penyebaran. Yang dulu butuh jaringan fisik, kini bisa bergerak lewat platform, komunitas tertutup, dan promosi terselubung. Dalam dunia seperti ini, penanganan narkoba tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan lama yang hanya reaktif. Negara harus menang di fase awal, di norma, literasi, dan deteksi cepat.

Di titik inilah langkah-langkah BNN perlu dibaca sebagai sesuatu yang signifikan, yang sedang meng-upgrade cara negara hadir. Bukan hanya menindak, tetapi membangun sistem. Kita perlu mengapresiasi arah kerja BNN yang menggunakan tiga metode untuk menghadapi modus-modus penyebaran zat terlarang yaitu:

Pertama, membaca perubahan modus lewat kolaborasi seperti FGD dan koordinasi lintas sektor. Ancaman seperti vape/whip pink bukan isu tunggal, lantaran telah menyeberang dari isu kesehatan, pendidikan, ekonomi digital, hingga penegakan hukum. Ketika para pemangku kepentingan dikumpulkan untuk menyamakan peta risiko, itu adalah cara negara memastikan kebijakan yang tidak buta terhadap realitas lapangan.

Kedua, menunjukkan ketegasan pada suplai, melalui aksi penindakan dan pemusnahan. Publik butuh melihat negara bekerja bukan hanya lewat narasi, tetapi lewat tindakan nyata yang memutus suplai dan mengganggu jaringan peredaran.

Ketiga, menguatkan pencegahan berbasis layanan dan edukasi. Peresmian layanan seperti call center 184 (SAPA-184) penting karena memberi ruang partisipasi publik dengan akses cepat untuk informasi, pelaporan, dan rujukan. Di era ketika ancaman bergerak cepat, saluran respons publik 24/7 bukan pelengkap, melainkan kebutuhan.

Dan yang paling strategis ialah upaya pencegahan berbasis sekolah seperti Integrasi Kurikulum Antinarkoba (IKAN). Karena, jika kita ingin menang, kita tidak bisa hanya mengejar pelaku di hilir. Kita harus memperkuat “antibodi sosial” anak-anak sejak dini melalui kemampuan menolak, literasi risiko, dan keberanian mencari bantuan.

Kunci kemenangan justru ada di masyarakat, karena narkoba ialah ‘virus sosial’. Namun, ada satu kebenaran yang tidak bisa dinegosiasikan, yaitu negara tidak bisa bekerja sendirian. Narkoba modern bekerja seperti virus yang menyebar lewat normalisasi, lewat candaan, lewat konten yang membuat perilaku berisiko tampak “keren”. Maka pertahanan pertama bukan hanya aparat, tetapi norma sosial kita.

Dukungan Itu Bukan melalui Tepuk Tangan, Tapi lewat Kebiasaan yang Mengubah Arah

Kalau dukungan publik hanya berhenti di komentar “setuju” dan “dukung”, maka belum akan berdampak apa pun. Yang mengubah arah justru hal-hal kecil yang dilakukan berulang setiap hari di rumah, sekolah, tongkrongan, ruang digital, dan tempat hiburan. Karena ancaman seperti vape oplosan dan whip pink tidak hidup dari satu orang, melainkan hidup dari celah-celah kebiasaan. Karena itu, kontribusi warga harus diterjemahkan menjadi “aksi minimal” yang jelas:

1. Kunci Percakapan (orang tua & keluarga)

Buka obrolan pendek, rutin, tanpa nada menginterogasi: “Di sekolah ada tren apa?” “Ada teman yang mulai coba-coba?”

2. Kunci Keterampilan (sekolah)

Ajarkan kalimat penolakan yang realistis, yang tidak memalukan murid saat menolak.

3. Kunci Ruang Aman (komunitas)

Pastikan ada ruang kegiatan yang membuat remaja merasa “punya panggung untuk eksis”: olahraga, seni, relawan, klub kreatif.

4. Kunci Kanal (platform & pelaku usaha)

Putus jalur iklan terselubung dan komunitas jual-beli. Jangan beri “jalan tol” untuk promosi.

5. Kunci Norma (publik luas)

Berhenti mempopulerkan lewat humor, challenge, atau konten viral. Yang sering disebut, lama-lama dianggap normal.

Kesimpulannya adalah, yang dibutuhkan bukan ramai-ramai sesaat, tapi disiplin sosial harian.

Pelajaran sejarah itu bukan untuk dihafal, tapi untuk mencegah. Opium Wars mengingatkan kita bahwa zat adiktif bisa melemahkan negara melalui manusia. Hari ini, cara kerjanya lebih halus, karena tidak datang dengan meriam, tetapi dengan desain menarik, rasa manis, dan budaya populer.

Karena itu, Indonesia harus menang sebelum terlambat, dengan strategi yang menyatukan lewat penindakan tegas, pencegahan cerdas, layanan yang responsif, dan dukungan sosial yang konsisten.

Kita tidak perlu menunggu krisis besar untuk serius. Justru kita harus serius agar krisis besar tidak pernah terjadi.

Dr. Devie Rahmawati, CICS
Dewan Penasihat Kader Bangsa Foundation (YPKBI)

Pos terkait