Jakarta – Harga beras dunia tengah mengalami penurunan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Di ruang publik sempat beredar kabar bahwa anjloknya harga terjadi akibat Indonesia tidak melakukan impor beras seperti dua tahun sebelumnya. Namun, pengamat pertanian sekaligus pengurus pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi), Khudori menegaskan klaim tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Menurutnya, data Bank Dunia hingga FAO justru menunjukkan bahwa penurunan harga beras dunia merupakan bagian dari siklus fluktuasi pasar sekaligus dampak membaiknya produksi negara produsen utama serta meningkatnya suplai global.
“Harga beras dunia yang rendah saat ini merupakan bagian dari fluktuasi berulang. Data menunjukkan kalau tidak ada goncangan pasokan-permintaan, harga global akan stabil di kisaran 400 dolar AS per ton,” ujar Khudori.
Ia memerinci, harga beras Thailand 5% patah yang sempat menyentuh kisaran 660 dolar AS per ton pada Januari 2024 kini turun hingga sekitar 368 dolar AS per ton. Tren serupa juga terjadi pada beras Vietnam, Pakistan, India, hingga Amerika Latin.
“Penurunan harga ini bukan karena Indonesia tidak impor. Produksi global membaik dan ekspor India meningkat, itu faktor yang lebih masuk akal,” tegasnya.
FAO memperkirakan produksi beras global 2024/2025 mencapai 549,9 juta ton, naik sekitar 2,7 persen dibanding periode sebelumnya. Sementara suplai dunia diperkirakan mencapai 749 juta ton dengan permintaan sekitar 539 juta ton.
“Permintaan justru naik, terutama dari Afrika. Jadi bukan logis kalau penurunan harga dikaitkan dengan Indonesia tidak impor,” kata Khudori.
Ia juga menegaskan bahwa Indonesia bukan importir terbesar dunia secara rutin. Data menunjukkan impor besar Indonesia hanya terjadi pada tahun-tahun tertentu ketika produksi tertekan faktor cuaca, seperti pada 2023–2024.
“Indonesia tidak impor tahun ini bukan berarti tidak ada impor sama sekali. Swasta tetap impor beras khusus untuk kebutuhan industri, jumlahnya 350–550 ribu ton per tahun,” jelasnya.
Di sisi lain, Khudori mengingatkan pemerintah agar tidak terlena dengan kondisi saat ini. Peningkatan produksi dinilai masih bertumpu pada perluasan panen, bukan peningkatan produktivitas.
“Ada PR besar bagi pemerintah, yakni membangun fondasi produksi yang kokoh. Tahun ini kita terbantu faktor alam. Tapi kemewahan seperti ini tidak selalu ada tiap tahun. Tugasnya bagaimana memastikan produksi berkelanjutan,” pungkasnya.





