Oleh: Ayik Heriansyah
Perkembangan mutakhir menunjukkan bahwa Israel memperluas agresinya ke Tepi Barat, wilayah dengan konfigurasi politik dan ideologi yang berbeda secara signifikan dari Gaza.
Gaza secara faktual merupakan basis Hamas. Struktur kekuasaan, perlawanan bersenjata, dan legitimasi sosial di wilayah ini dikuasai oleh Hamas. Di Gaza Hizbut Tahrir (HT) tidak berkembang. Ketidakhadiran HT dalam perlawanan fisik melawan Israel dapat dimaklumi.
Sebaliknya, Tepi Barat dan kota-kota sekitarnya hingga ke Yordania dikenal sebagai basis utama HT. Di wilayah inilah HT membangun jaringan kaderisasi ideologisnya secara sistematis selama puluhan tahun. Kehadiran HT di Tepi Barat bersifat nyata, masif, dan terorganisasi, meskipun tidak diwujudkan dalam bentuk perlawanan bersenjata.
Karena itu, serangan Israel ke Tepi Barat menjadi ujian tersendiri bagi HT. Ujian bagi kejujuran dan keikhlasan HT. Tepi Barat menjadi medan jihad langsung (mubasyarah). Menurut fatwa jihad Muhammad Shiddiq al-Jawi (ahli fiqih HTI) jihad melawan penjajahan di Palestina adalah fardlu ‘ain bagi kaum muslimin yang berada di wilayah Palestina dan sekitarnya. Dalam penjelasannya, Shiddiq al-Jawi menegaskan bahwa kewajiban jihad tidak menunggu tegaknya khilafah dan tidak mensyaratkan adanya satu imam global, melainkan gugur hanya jika musuh berhasil diusir.
Ironisnya, meski Tepi Barat adalah basis HT tidak terlihat respons nyata dari gerakan ini ketika wilayah tersebut diserang. Tidak ada mobilisasi, tidak ada perlawanan, bahkan tidak ada konsolidasi umat secara konkret. Tidak ada milisi-milisi ad hoc bersenjata yang dibentuk oleh Amir HT sebagaimana waktu perang sipil di Suriah.
Jika fatwa jihad HT dipegang secara konsisten, maka anggota dan pendukung HT di Tepi Barat, Yordania, dan negara-negara sekitar Palestina seharusnya berada di barisan terdepan jihad fisik melawan Israel. Di kota Amman, Yordania, pada tahun 2008 saja tercatat lebih dari 2.000 anggota HT.
Dari Amman ke Tepi Barat berjarak 130 km. 2 jam 17 menit perjalanan dengan mobil. Lebih jauh jarak dari Bandung ke Bogor (171 km). Dari satu kota Amman saja, secara logistik dan sumber daya manusia, HT dapat membentuk beberapa batalyon pasukan.
Atha Abu Rusytah Amir HT yang sekarang sendiri adalah orang Palestina asli yang tinggal di kawasan Arab. Secara syar’i, ia terkena fatwa taklif fardlu ‘ain berjihad melawan agresi Israel. Dalam posisi sebagai Amir sebuah gerakan internasional, kapasitas kepemimpinan dan jejaring semestinya menjadikannya aktor strategis, bukan sekadar orator ideologis.
Masalahnya bukan pada ketiadaan fatwa, bukan pula pada ketidakpahaman tentang jihad. Masalah utamanya adalah ambiguitas ideologis. Ambisi merebut kekuasaan dengan alibi menegakkan khilafah yang sejatinya adalah Khilafah Tahririyah, bukan Khilafah Rasyidah menggeser jihad dari kewajiban syar’i menjadi alat propaganda politik.
Serangan Israel ke Tepi Barat sekaligus membongkar paradoks besar HT. Lantang dalam fatwa, tetapi bisu dalam tindakan. Selama ambisi kekuasaan masih mengalahkan keberpihakan nyata kepada umat yang tertindas, seruan-seruan HT akan terus menjadi retorika kosong, tidak membebaskan Palestina dan tidak pula memberi izzah bagi umat Islam.





