Bukan Sekadar Menunggu Magrib: Refleksi Puasa Ala KH Luthfi Fauzi

Pimpinan Ponpes Riyadussalikin KH Luthfi Fauzi
Pimpinan Ponpes Riyadussalikin KH Luthfi Fauzi

PANGANDARAN – Memasuki bulan suci, KH Luthfi Fauzi, pimpinan Pondok Pesantren Riyadussalikin, membagikan tips puasa yang tak biasa. Bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, ia mengingatkan bahwa puasa adalah latihan total fisik, lisan, hingga hati.

Dalam nasihatnya, KH Luthfi Fauzi menegaskan bahwa banyak orang merasa sudah berpuasa, padahal baru sebatas menggugurkan kewajiban.

“Kalau cuma menahan lapar, itu diet namanya. Puasa itu menahan diri dari segala yang bisa mengurangi pahala,” ujarnya tegas.

Kalimat itu langsung jadi perhatian. Sebab, menurutnya, inti puasa bukan hanya di perut, tapi di pengendalian diri.

Jangan Biarkan Puasa “Bocor Halus”
Sebagai pimpinan Ponpes Riyadussalikin, KH Luthfi Fauzi kerap mengingatkan soal “kebocoran pahala” yang sering tak disadari. Misalnya, masih bergosip, mudah marah, hingga sibuk mencela orang lain.

“Percuma lapar seharian kalau mulut masih tajam. Percuma haus kalau hati masih panas,” katanya.

Ia menambahkan, puasa seharusnya membuat seseorang lebih sabar, lebih lembut, dan lebih peka terhadap sesama.

Tiga Tips Puasa Agar Lebih Maksimal
Dalam berbagai kesempatan, KH Luthfi Fauzi membagikan beberapa tips agar puasa tidak sekadar formalitas:

1. Jaga Lisan Sejak Subuh
Menurutnya, lisan adalah pintu pahala sekaligus pintu dosa. Mengurangi debat tak perlu dan menahan komentar negatif adalah langkah awal menjaga kualitas puasa.

2. Perbaiki Niat Setiap Hari
Puasa bukan hanya rutinitas tahunan. Niat harus terus diperbarui agar ibadah terasa hidup dan penuh kesadaran.

3. Perbanyak Amal Diam-Diam
Sedekah tanpa diketahui orang lain, membantu sesama tanpa diumbar, dan memperbanyak doa di waktu sepi menjadi cara menjaga keikhlasan.

“Puasa itu sekolah pengendalian diri. Kalau setelah Ramadan kita masih sama, berarti ada yang salah dengan puasanya,” tegasnya.

KH Luthfi Fauzi juga mengingatkan agar umat tak menjadikan Ramadan sebagai ajang pencitraan. Menurutnya, ibadah yang terlalu sibuk dipamerkan justru bisa mengurangi nilai keikhlasan.

“Yang dinilai Allah itu hati, bukan unggahan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi refleksi di tengah maraknya budaya berbagi aktivitas ibadah di media sosial.

Bagi KH Luthfi Fauzi, puasa adalah momentum membersihkan diri. Bukan hanya menahan lapar dari terbit fajar hingga magrib, tetapi menahan ego, amarah, dan keinginan yang berlebihan.

“Kalau puasa kita benar, hati jadi lebih lembut. Kalau hati lembut, hidup jadi lebih tenang,” tuturnya.

Nasihat dari pimpinan Ponpes Riyadussalikin itu menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah kesempatan emas memperbaiki diri.
Karena sejatinya, puasa bukan hanya tentang menunggu azan magrib, melainkan tentang bagaimana kita keluar dari Ramadan dalam keadaan lebih baik dari sebelumnya.

Pos terkait