Jakarta – Isu kekerasan terhadap aktivis HAM kembali menjadi sorotan publik. Dalam sebuah podcast yang digelar di Kantor Roemah Palapa, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (16/3/2026), musisi sekaligus eks gitaris Iwan Fals, Digo DZ, menyampaikan pandangannya terkait kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Podcast bertajuk “Rakyat Berdaulat, Pancasila Bermartabat: Menjaga Ruang Demokrasi di Tengah Isu Kekerasan terhadap Aktivis” tersebut membahas kondisi demokrasi dan keamanan bagi para aktivis, jurnalis, serta masyarakat yang kerap menyuarakan kritik terhadap kebijakan negara.
Dalam pernyataannya, Digo DZ menilai aksi kekerasan seperti penyiraman air keras terhadap aktivis HAM merupakan tindakan yang mencederai nilai-nilai Pancasila. Menurutnya, ketika ruang publik berubah menjadi arena kekerasan, maka rasa aman masyarakat pun ikut dipertanyakan.
“Bagi saya itu sangat melecehkan Pancasila. Kalau jalanan sudah menjadi arena kekerasan, berarti kita harus bertanya, apakah setiap orang bisa saja mengalami hal yang sama?” ujar Digo.
Ia menekankan bahwa kritik seharusnya dipandang sebagai bagian penting dalam kehidupan demokrasi. Dalam dunia akademik maupun intelektual, kritik justru menjadi sarana untuk memperbaiki dan menyempurnakan gagasan.
“Harusnya kita senang dikritik. Di dunia akademik saja selalu ada kalimat kritik dan saran kami harapkan. Tapi kalau kritik dijawab dengan kekerasan di jalanan, berarti kita belum dewasa dalam berdemokrasi,” tambahnya.
Digo juga mengingatkan bahwa ketika hukum seakan berpindah dari ruang institusi ke jalanan, maka hal tersebut menjadi sinyal berbahaya bagi kedaulatan hukum di Indonesia.
“Kalau hukum sudah terjadi di jalanan, berarti kedaulatan hukum kita dipertanyakan,” tegasnya.
Menurutnya, peristiwa seperti ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi para aktivis yang aktif menyuarakan keadilan dan kritik sosial. Ia mengakui bahwa hingga kini belum ada jaminan keamanan yang benar-benar mampu melindungi para pejuang demokrasi.
Meski demikian, Digo mengajak masyarakat untuk tidak bersikap apriori terhadap semua lembaga negara. Ia percaya masih ada individu-individu yang tetap memegang teguh nilai Pancasila.
“Saya tidak ingin menggeneralisir. Di setiap lembaga pasti masih ada ‘matahari-matahari kecil’ yang tetap menjaga nilai Pancasila,” katanya.
Menyinggung sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Digo menilai peristiwa kekerasan terhadap aktivis menjadi refleksi dinamika demokrasi yang masih menghadapi banyak tantangan.
Ia mengingatkan bahwa sejarah Indonesia juga pernah diwarnai berbagai peristiwa kekerasan terhadap tokoh atau aktivis, sehingga masyarakat perlu terus menjaga ruang demokrasi agar tetap sehat dan terbuka.
Di akhir perbincangan, Digo DZ menyampaikan pesan kepada para aktivis, jurnalis, dan masyarakat agar tetap menyampaikan kritik melalui jalur konstitusional dan demokratis.
Menurutnya, kritik bisa disampaikan melalui tulisan, orasi, maupun mekanisme hukum, tanpa harus terjebak pada konflik yang berujung kekerasan.
“Pilihan jalurnya banyak. Bisa lewat karya tulis, lewat hukum, atau mekanisme konstitusional. Yang penting tetap dalam koridor demokrasi,” pungkasnya.
Podcast tersebut menjadi refleksi penting bahwa ruang demokrasi harus terus dijaga, agar kritik tidak dibungkam oleh rasa takut, dan nilai-nilai Pancasila tetap menjadi landasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.





