Langkah Diplomasi Indonesia di BOP: Menjaga Keseimbangan di Tengah Gejolak Global

Direktur Kebijakan Fiskal Celios Media Wahyudi Askar
Direktur Kebijakan Fiskal Celios Media Wahyudi Askar

Jakarta, 14 April 2026 – Center of Economic and Law Studies (Celios) menilai langkah Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP) dan menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) bersama Amerika Serikat justru membawa konsekuensi berat bagi perekonomian nasional. Direktur Kebijakan Fiskal Celios, Dr. Media Wahyudi Askar, menyebut keputusan tersebut mengikis politik bebas aktif Indonesia dan menimbulkan dampak fiskal yang signifikan di tengah perang AS–Israel melawan Iran.

Perang yang pecah sejak 28 Februari 2026 telah menimbulkan ribuan korban jiwa di Iran, Lebanon, dan Irak. Dampaknya merembet ke Indonesia, terutama sektor energi. Kapal tangker Pertamina tertahan di Selat Hormus, menyebabkan pembengkakan subsidi energi hingga puluhan triliun rupiah. “Jika harga minyak dunia menembus 120 USD per barel, kerugian APBN bisa mencapai 500 triliun,” ujar Askar.

Selain itu, pelemahan kurs rupiah memperberat beban pembayaran utang luar negeri berbasis dolar AS. Pemerintah memilih menahan harga BBM dengan subsidi APBN, namun Celios mempertanyakan berapa lama strategi ini bisa bertahan. “Apakah kita sanggup? Pemerintah tidak menaikkan harga BBM, tapi mengalokasikan APBN untuk menutupi subsidi. Pertanyaannya, itu bisa sampai kapan?” tambahnya.

Celios menekankan perlunya mitigasi fiskal yang lebih kuat. Langkah jangka pendek yang disarankan antara lain relokasi anggaran, pemotongan tunjangan pejabat, serta efisiensi perjalanan dinas. Sementara untuk jangka panjang, subsidi transportasi publik dinilai penting agar efisiensi penggunaan BBM dapat tercapai.

Di sisi geopolitik, Askar menilai masuknya Indonesia ke BOP justru menjerat Indonesia dalam afiliasi politik dengan AS dan Israel. “Ketika kita memunggungi harimau maka kita akan berakhir di perut harimau. Cina dan Rusia sudah menyatakan Indonesia berafiliasi dengan AS bahkan Israel,” tegasnya.

Celios mendorong pemerintah mempertimbangkan opsi keluar dari BOP dan ART demi menjaga kedaulatan ekonomi dan politik. “Meski ada risiko hubungan dingin dengan AS, keputusan geopolitik keras bisa diambil. Indonesia sebagai negara muslim terbesar tidak boleh kehilangan posisi moralnya,” kata Askar.

Menurutnya, langkah keluar dari BOP tidak hanya tepat secara politik, tetapi juga penting untuk mengurangi beban fiskal dan menjaga stabilitas ekonomi nasional. Celios bahkan telah mengirimkan draft usulan terkait ART ke Sekretariat Kabinet sebagai bahan pertimbangan pemerintah.

Dengan kondisi perang yang terus bereskalasi, Celios menilai keputusan keluar dari BOP dan ART menjadi salah satu opsi strategis agar Indonesia tidak semakin terjebak dalam pusaran konflik global yang merugikan kepentingan nasional.

Pos terkait