Jakarta — Ketua komunitas pemuda Nusa Tenggara Timur (NTT) di Jakarta, Emanuel Mikael Kota, mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik, khususnya menjelang momentum peringatan Hari Buruh Internasional (Mayday).
Menurut Emanuel, berbagai kerusuhan yang terjadi dalam aksi unjuk rasa sebelumnya tidak bisa dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ia menilai, terdapat indikasi kuat adanya kepentingan tertentu yang bermain di balik mobilisasi massa hingga memicu tindakan anarkis.
“Kerusuhan itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ada kepentingan politik, bisnis, dan lainnya. Bahkan, massa yang terlibat seringkali bukan massa dengan agenda jelas, melainkan kelompok yang dimobilisasi dan diarahkan untuk melakukan kekerasan,” ujarnya.
Emanuel menegaskan, kondisi tersebut harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat agar tidak terjebak dalam skenario pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan dari situasi tidak kondusif.
Ia juga mengkritik keras pihak-pihak yang dengan sengaja menggerakkan massa demi kepentingan tertentu, terlebih di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang.
“Dalam situasi ekonomi seperti sekarang, masyarakat justru tidak boleh dipersulit. Kerusuhan hanya akan memperburuk keadaan. Yang paling dirugikan tetap masyarakat itu sendiri,” tegasnya.
Di sisi lain, Emanuel menegaskan bahwa kebebasan berpendapat melalui aksi demonstrasi merupakan hak yang dilindungi undang-undang. Namun demikian, ia mengingatkan agar kebebasan tersebut tidak disalahgunakan menjadi alat provokasi yang berujung pada kerusuhan.
“Kita sepakat kritik itu penting, bahkan perlu. Tapi ketika ada agenda tersembunyi yang sengaja memicu kerusuhan, itu yang harus kita tolak bersama,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat, khususnya mahasiswa dan kelompok kritis lainnya, untuk tetap menyampaikan aspirasi secara cerdas, konstruktif, dan tidak mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak berkepentingan.
Lebih lanjut, Emanuel menyoroti pentingnya literasi digital dalam menghadapi derasnya arus informasi saat ini. Ia mengimbau masyarakat untuk menerapkan prinsip “saring sebelum sharing” guna menghindari penyebaran hoaks yang berpotensi memecah belah bangsa.
“Jangan langsung percaya dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Cek dulu ke media yang kredibel. Kalau tidak jelas, jangan disebarkan,” ujarnya.
Menjelang peringatan Mayday, Emanuel juga menyampaikan harapannya agar seluruh elemen buruh dapat memperingati hari tersebut dengan tertib dan damai.
“Silakan menyampaikan aspirasi, itu hak. Tapi jangan sampai terpancing provokasi yang justru merugikan kita semua. Kalau terjadi kerusuhan, dampaknya luas dan kembali ke masyarakat juga,” pungkasnya.
Ia menekankan bahwa menjaga ketertiban dan keamanan merupakan tanggung jawab bersama demi terciptanya iklim demokrasi yang sehat dan kondusif di Indonesia.





