BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah Ajak Mahasiswa Jaga Persatuan dan Kondusivitas

BEM Universitas Islam As Syafiiyah
BEM Universitas Islam As Syafiiyah

JAKARTA — Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Islam As-Syafi’iyah mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa menjadikan momentum Bulan Kemerdekaan Agustus 2026 sebagai ruang refleksi untuk memperkuat peran mahasiswa sebagai kekuatan intelektual, moral, dan sosial.

BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah menilai kemerdekaan tidak cukup dimaknai melalui kegiatan seremonial semata. Semangat kemerdekaan perlu diwujudkan melalui gagasan, kritik yang berbobot, serta gerakan konstruktif yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Momentum kemerdekaan harus menjadi energi bagi pemuda dan mahasiswa untuk memperkuat persatuan, kepedulian sosial, serta memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa,” demikian pernyataan BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah pada Agustus 2026.

Menurut BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah, aktualisasi gerakan mahasiswa dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan positif, seperti diskusi publik, pengabdian kepada masyarakat, pendidikan kebangsaan, kegiatan sosial, hingga penyampaian aspirasi secara kritis dan berbasis data.

Di sisi lain, BEM menegaskan mahasiswa tetap memiliki hak sekaligus tanggung jawab moral untuk mengkritisi setiap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada kepentingan masyarakat.

“Mahasiswa tetap memiliki hak dan tanggung jawab moral untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada masyarakat. Namun, sikap kritis harus dilakukan secara bertanggung jawab,” ujarnya.

BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah juga mengingatkan agar kebebasan menyampaikan pendapat tidak bergeser menjadi tindakan provokatif, kekerasan, perusakan, maupun aksi anarkis.

Menurut mereka, gerakan mahasiswa harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi. Aksi provokatif dan anarkis dinilai bukan menjadi ukuran keberanian maupun militansi mahasiswa.

“Keberanian mahasiswa bukan diukur dari tindakan anarkis. Justru gerakan mahasiswa harus mampu menunjukkan kedewasaan dalam berdemokrasi, menyampaikan kritik secara damai, berbasis data, dan menawarkan solusi,” kata BEM.

BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah menilai tindakan anarkis berpotensi menimbulkan stigma negatif di tengah masyarakat, menurunkan kepercayaan publik, serta membuka ruang bagi pihak tertentu untuk mendiskreditkan gerakan mahasiswa secara keseluruhan.

Karena itu, BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah menyerukan agar Agustus 2026 menjadi momentum konsolidasi gerakan mahasiswa yang kritis, damai, intelektual, dan solutif.

“Mahasiswa harus tetap lantang ketika melihat ketidakadilan, tetapi pada saat yang sama harus mampu menjaga agar perjuangan tidak kehilangan arah dan legitimasi publik,” tegasnya.

BEM Universitas Islam As-Syafi’iyah menegaskan semangat kemerdekaan harus diwujudkan melalui keberanian menyuarakan kepentingan rakyat sekaligus kesadaran untuk bertanggung jawab atas setiap tindakan.

“Kemerdekaan adalah keberanian untuk bersuara sekaligus kedewasaan untuk bertanggung jawab. Mari kita jaga marwah gerakan mahasiswa: kritis tanpa provokasi, berani tanpa anarki, dan bergerak dengan gagasan untuk kepentingan rakyat,” pungkasnya.

Pos terkait