Oleh: Abdul Ghopur
Dalam rangka menyonsong Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) Ke 35 yang direncanakan dihelat pada 27-31 Agustus 2026, di Tambak Beras, Jombang nanti, tentu telah banyak “persiapan” yang dilakukan oleh segenap jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dan pengurus-pengurus NU beserta Lajnah dan Banom-Banom NU lainnya di berbagai daerah. Tak ketinggalan pula segenap warga (jama’ah) NU yang antusias tak ingin ketinggalan untuk menghadiri perhelatan akbar lima tahunan sekali tersebut.
Sebagai salah seorang “jebolan santri” di salah-satu pondok pesantren berpahamkan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (Aswaja-NU), dan sebagai kader pergerakan sayap NU, tentunya saya dan seperti kebanyakan lainnya, merasa berbahagia sekaligus “berkewajiban” menyemarakkan perhelatan akbar nan “sakral” itu dengan (jika dianggap pantas) urun rembug pemikiran melalui tulisan ini.
Mungkin sudah banyak santri dan kader NU yang menulis tema-tema tentang “Muktamar NU Ke 35,” serta harapan-harapan besar terhadap jam’iyyah terbesar di Indonesia ini di pelbagai lini media massa. Bahkan jauh sebelum ini, ada banyak tokoh dan kader NU yang telah mengadakan diskusi rutin mingguan dan bulanan serta diskusi “dadakan” terkait tema-tema seputar Muktamar NU ke 35 khsusnya dan tema-tema terkait NU umumnya, road show ke kantong-kantong NU di seluruh Indonesia. Hasil dari road show tersebut adalah munculnya sejumlah statemen, penyataan sikap bahkan petisi terbuka dari pengurus-pengurus cabang dan wilayah NU serta aktifis-aktifis NU di berbagai daerah, terkait kondisi “memprihatinkan” jama’ah dan jam’iyyah NU lima tahun terakhir ini setidaknya. Sekali lagi, saya secara pribadi juga merasa terpanggil untuk ikut “menyebarluaskan” hal senada. Bukan untuk melengkapi derita, melainkan wujud kecintaan dan kepedulian saya terhadap masa depan “Bahtera Besar” umat Nahdliyyin-Nahdliyyat ini di masa yang akan datang.
Suasana Kebatinan Nahdliyyin- Nahdliyyat
Syahdan, begitu gegap-gempita dan semaraknya suasana pemikiran bahkan kebatinan seluruh Nahdliyyin-Nahdliyyat menjelang minggu-minggu akhir menuju perhelatan Muktamar NU Ke 35 yang dinanti-nanti, yang akan dihadiri jutaan anggota dan kadernya dari seluruh Indonesia. Tentu banyak rasa dan harapan yang tertumpah di situ. Saya yakin, semangat Muktamar NU Ke 35 itu bukan sebatas simbolik dan keceriaan belaka, namun menyimpan dan menyiratkan makna yang teramat dalam. Sebagai sebuah organisasi terbesar dan salah-satu yang tertua di Indonesia (100 tahun lebih usianya), tentu sudah banyak bakti dan bukti serta peran kesejarahan yang telah NU torehkan di atas kanvas sejarah perjalanan republik ini, bahkan dunia.
Role Model Islam Indonesia
Di samping itu, sebagaimana pernah saya ulas pada artikel saya sebelumnya (baca: Reinventing Khittah Nahdlatul Ulama) patut pula kita syukuri NU terbukti telah menjadi role model Islam yang moderat (washatiyah) dan toleran (tasamuh) terbesar arus utama keberagamaan, yang mewakili mayoritas umat Islam di Indonesia atau Nusantara yang mayoritas (87,08%). Rasa syukur itu tentu terkait menjamur dan bermunculannya faham-faham keberagamaan tajdid (pembaruan)/”purifikasi (pemurnian) akidah” yang mengedepankan bentuk pendekatan tatharruf (ekstrimisme), yang merasa berkewajiban menegakkan hukum-hukum kehidupan sosial kemasyarakatan berdarkan hukum Islam secara menyeluruh (kaffah). Mendirikan negara Islam atau khilafah Islamiyah misalnya dianggap sebagai menegakkan syari’at Islam. Padahal, nyata-nyata tidak demikian. Gerakan purifikasi Islam terbukti menemukan kegagalan di berbagai negara yang bahkan mengusus asas Islam sekali pun. Karena menjadikan Islam sebagai asas, yang justru keliru bahkan merendahkan Islam sendiri. Islam adalah agama ciptaan Allah, sedangkan asas/isme ciptaan manusia. Islam jauh di atas asas, karena Islam adalah dinullah (agama Allah).
Nakhoda Baru Di Bahtera Besar
Ibarat bahtera/kapal besar, NU adalah kapal besar yang akan mengarungi samudera yang sangat dalam dan luas, bahkan tak bertepi. Tentu bukan hal yang mudah untuk mengarungi luasnya samudera. Dalam upaya membawa dan mengarungi bahkan menerjang samudera yang luas tak bertepi ini, kapal besar ini sudah selaiknya memiliki “nakhoda baru” yang piawai, terampil, yang luwes. Karena di depan sana, ombak dan gelombang tinggi siap menanti untuk menghempaskan kapal besar yang bernama NU ini. Perlu kesiap-siagaan dan persiapan yang matang sekaligus nakhoda yang tangguh dan pemberani. Bukan sekedar asal berlayar tapi tanpa tahu arah yang pasti, tanpa tahu arus pusaran dan gelombang. Tetapi, kapal besar ini perlu dilengkapi sistem navigasi yang memadai juga canggih. Dinakhodai dan diawaki oleh nakhoda dan awak-awak/anak buah kapal (ABK) yang terampil dan setia sekaligus kompak serta paham medan. Bukan awak-awak/ABK yang ecek-ecek atau kaleng-kaleng (istilah anak zaman now), tapi yang tangguh, muda, cerdas sekaligus pemberani.
Definisi Pemimpin Dan Kepemimpinan
Pemimpin dan kepempinan sesungguhnya merupakan dua kata yang tak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Bagaikan keping logam uang dengan dua sudut pandang yang berbeda namun tetap merupakan satu kesatuan yang utuh. Sebab, dalam diri pemimpin terdapat sikap kepimimpinan. Sedangkan definisi pemimpin dan kepemimpinan memiliki banyak makna yang berbeda-beda tergantung pada sudut pandang dan perspektif masing-masing orang. Namun, secara umum kepemimpinan didefinisikan sebagai sesuatu yang melekat pada diri seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti keperibadian (personality/inner beauty), keikhlasan (cincerity), kejujuran (faith), kesetiaan (loyality), kemampuan (capacity), kesanggupan (ability), ketahanan (defense), integritas (integrity), dan lain-lain, untuk memengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan dan kepatuhan agar ikut serta dalam mencapai dan mewujudkan cita-cita bersama yang diinginkan.
Haruskah Pemimpin Hanya Berdasarkan Keturunan Atau Harus Berbakat Dan Kaya Literasi Juga?
Seorang pemimpin tidak melulu dilihat dari faktor genetika (asal-usul) keturunan saja, tetapi faktor lainnya seperti pendidikan dan pelatihan juga merupakan pendukung utama tingkat kualitas seorang pemimpin, terutama bakat. Jika kita ingin memengaruhi orang lain berarti kita akan terlibat ke dalam kegiatan kepemimpinan, sebab kepemimpinan adalah proses memengaruhi orang lain. Kepemimpinan seseorang sangat bergantung pada model kepemimpinannya masing-masing. Model kepemimpinan adalah pola tingkah laku yang kita gunakan bilamana kita mencoba memengaruhi tingkah laku orang lain. Denga kata lain, apabila persepsi kita terhadap pola tingkah laku kepemimpinan kita baik dan bermanfaat, belum berarti apa-apa apabila persepsi orang lain terhadap kepemimpinan kita kurang baik. Dengan kata lain, seorang pemimpin itu muncul sesuai kehendak zaman (keadaan) dan dipersepsikan serta harus dikenal (recognized).
NU sesungguhnya memiliki segudang pemimpin yang berintegritas (intellectual standing). Di samping faktor atau variabel sebagaimana saya sebutkan di atas, kekayaan bahan bacaan (literasi) sebagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan adalah yang melekat pula pada seorang pemimpin. Generasi para muassis merupakan para pemimpin yang kaya akan literasi. Hadratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari telah membaca bayak literasi dan ribuan kitab. Begitu pula mbah Yai Wahab Chasbullah dan para muassis lainnya kala itu. Pertanyaannya, apakah para pemimpin NU mulai dari tingkat Ranting sampai Pengurus Besar sekarang ini sudah memperkaya diri dan kepemimpinannya dengan segudang literasi? Ini bukan soal kecakapan di lapangan, melainkan soal kekayaan literasi, wacana dan khazanah ilmu pengetahuan. Termasuk kekayaan literasi atas sejarah serta perkembangan sosio-antropologis dan pergeseran basis pendukung NU, serta dinamika dan tantangannya ke dalam dan ke luar. Bukan sekedar kerja, kerja dan kerja, apalagi sekedar populer (famous).
Kepemimpinan Berintegritas-Paradigmatik Sebagai Prasyarat Nakhoda Baru NU
Pertanyaannya kemudian, apakah para calon kandidat Ketua Umum Tanfidziyah PBNU (termasuk Rois Aam) muncul sesuai kehendak zaman (keadaan) dan recognized yang dapat mencapai dan mewujudkan cita-cita bersama yang diinginkan ratusan juta Nahdliyyin-Nahdliyyat? Apakah mereka benar-benar memiliki integritas dan kerangka berpikir sebagai seorang pemimpin (model kepimpinan NU)? Menakhodai kapal besar NU sudah barang-tentu mengandaikan sejumlah prasyarat serta tentunya kepemimpnan (leadership). Kepemimpinan yang paradigmatik dan berintegritas merupakan prasyarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang nakhoda bahtera besar yang akan menerjang hujan-badai samudera modernisme, tekhnologi dan globalisasi. Sosok yang sangat berpengalaman dalam banyak hal, utamanya kepemimpinan (leadership) dan keorganisasian. Di samping itu memiliki kedalaman keilmuan, pikiran dan hati yang bersih, ditambah jaringan (networking) yang luas, baik dalam negeri ataupun internasional.
Pendekatan Paradigmatik Menghadapi Tantangan NU Ke Depan
Namun, persoalan NU bukan cuma itu, tetapi lebih luas lagi, lebih kompleks. Apalagi di zaman sekarang ini yang penuh dengan tantangan dan dinamika sosial-politik-ekonomi-budaya yang luar biasa. Antara lain, perkembangan yang sangat pesat di bidang teknologi informasi (medsos), sosial, agama, budaya, hukum, ekonomi dan politik kekinian yang perlu penyiasatan serta pendekatan secara paradigmatik dan diteksi dini serta penanganan yang komprehensif (long term goal). Sederet persoalan dan dinamika yang akan dihadapi oleh NU ke depan sudah barang pasti memerlukan treatment khusus dan cara pandang yang mampu mengantarkan bahtera besar NU ini selamat sentosa sampai kepada tujuan (maqashid)nya, yakni menegakkan ajaran Islam menurut paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (moderasi Islam) di tengah-tengah kehidupan masyarakat, serta seluruh kemaslahatan umat. Cara pandang ini sebut saja sebagai paradigma gerakan NU yang berangkat dari kebutuhan NU sendiri, bukan gerakan “kelompok lain.”
Meskipun perdebatan mengenai paradigma NU sudah selesai, karena sekali lagi, NU sudah memiliki arah (guidance) dan gerakan serta kepemimpinan yang solid di tubuh jam’iyyah NU sendiri sejatinya. NU sudah punya AD/ART, Peraturan Perkumpulan, dan tentunya yang paling penting, Qonun Asasi. Tinggal persoalannya bagaimana merumuskan kembali metode dan role model yang dapat menyesuaikan dengan arus perkembangan dan dinamika di dalam dan laur tubuh NU serta dinamika zaman yang makin kompleks. Tetapi sekali lagi, persoalannya bukan cuma itu, bukan sampai di sini. Ada segudang masalah menanti di depan mata. Di sini nahkhoda baru itu perlu teramat cermat melihat kondisi global dan internal NU sendiri. Percuma saja punya mimpi besar dan cita-cita segudang, kalau kondisi internalnya morat-marit, terutama kondisi basis atau jama’ahnya.
Membangun Paradigma Gerakan NU Berbasis Realitas
Membangun sebuah gerakan keumatan seperti NU memang sesulit membaca realitas yang semestinya menjadi pijakan paradima itu. Gerakan manapun yang dibangun tidak di atas landasan realitas atau kenyataan hanya akan menjadi korban sejarah atau hanya akan menjadi agen kepentingan kelompok-kelompok lain, tidak pernah menjadi struktur agen perubahan sosial dan peradaban. Dus, paradigma yang baik adalah paradigma yang mampu menjadikan sejarah sebagai bahan penyusun yang dipadukan dengan kenyataan hari ini. Kenapa sejarah penting dalam penyusunan paradigma gerakan, khususnya gerakan NU? Sebab, sejarah itu menyimpan masa lalu yang telah menyusun masa kini dan masa depan yang akan datang. Jadi dengan mengombinasikan sejarah masa lalu NU dengan real-life hari ini, kita akan mampu membaca kenyataan secara benar sehingga kita tidak akan terjebak dalam kenyataan mediatik yang manipulatif dan menyesatkan yang sulit kita putuskan atas hegemoni roda-gila (free wheel) peradaban.
War of Position: Ngerti Posisi Tingkring
Membangun sebuah gerakan keumatan seperti NU sekali lagi, juga harus mengandaikan faktor-faktor produksi dan distribusi serta wilayah perebutan (war of position). Tanpa menggunakan logika ini, maka gerakan akan terjebak pada heroisme sempit sesaat lalu kemudian mati tanpa meninggalkan apa-apa selain kemasyhuran dan kebanggaan diri belaka. Katakanlah kita sedang akan membangun suatu gerakan, maka kita harus memahami di mana wilayah perebutan yang akan kita temui dan, oleh karena itu, apa yang harus kita produksi dan menggunakan jalur distribusi seperti apa agar produk-produk gerakan kita tidak disabotase di tengah jalan.
Rangkaian produksi-distribusi-perebutan ini adalah mata rantai yang tidak boleh putus, karena putusnya salah satu mata rantai ini berarti matinya gerakan, atau setidak-tidaknya gerakan hanya akan mejadi tempat kader-kadernya berheroisme bahkan ber-Megalomania. Dan, yang lebih riskan gerakan semacam ini akan dengan mudah diaborsi. Sebab, ada indikasi gerakan keumatan NU selama ini mengalami subordinasi, khususnya ketika gerakan itu berkorelasi dengan institusi yang bernama negara. Dari rezim ke rezim, dari pemilu ke pemilu, drama dan pertarungan atas nama moral bersih berputar tanpa skenario baru. Sehingga, tidak menghasilkan kejayaan yang elegan. Sebaliknya muncul dengan wajah buram, menguasai banyak medan pertempuran tapi kalah telak di akhir perang, banyak di mana-mana tetapi selalu tak mendapat apa-apa.
Suara Perubahan Dari Kesunyian
Di tengah tantangan dan skenario global serta hiruk-pikuk dinamika di tubuh NU sendiri yang makin sulit dibaca arah dan arusnya, senyap-senyap dari kesunyian saya merasakan getar suara-suara yang menuntut dan menginginkan perubahan dari bawah, dari jama’ah kepada para penguasa jam’iyyah. Gagasan serta tuntutan akan perubahan dan kemajuan, kini menggema di seantero jagad dan semesta Nahdliyyin-Nahdliyyat di akar rumput NU. Gagasan dan perubahan yang menuntut pula sosok calon nakhoda baru NU yang intelektual-intelijen yang berwawasan global menembus cakrawala dunia, namun dengan sikap sebagai seorang ulama’ yang tetap membumi (down to earth), yang wara’, tenang, bijaksana, sabar dan ngemong-ngayomi, yang lama dirindukan ratusan juta Nahdliyyin-Nahdliyyat di seluruh persada negeri.
Bukan sekadar Politic as Usual
Di samping itu, kedalaman ilmu dan pengalaman, karakter ulama’ yang cekatan, sigap, gesit, memiliki semangat yang sangat tinggi, berpikir besar dan memiliki mimpi yang besar yang dirindu pula. Dus, sifat yang gandrung akan perubahan, kreatif serta inovatif, tidak anti dalam mengadopsi nilai-nilai atau sesuatu yang baru yang jauh lebih baik. Sikap sosok cendikia yang progresif, visioner sekaligus revolusioner, yang memiliki gagasan yang menerobos kebuntuan dan kebekuan serta “kemapanan” berpikir para elit tua selama ini. Sikap yang mampu menjawab tantangan jam’iyyah ini ke depan yang sungguh dahsyat, yang memerlukan bukan sekedar tindakan politics as usual, melainkan terobosan-terobosan yang out of the box. Dan, itu hanya bisa dilakukan oleh sosok ulama’ cerdik-pandai yang progresif, revolusioner, visioner dan berintgritas tinggi, yang sangat potensial dalam memajukan dan membawa bahtera besar NU ini ke kancah internasional, ke gerbang emas kemerdekaan. Singkatnya Nahdliyyin-Nahdliyyat sangat merindukan nakhoda baru seorang ulama’ cerdik-pandai, insan al-kamil.
Momen Penting Muktamar Ke 35: Gagasan Kembali Ke Khittah 1926
Gagasan kembali ke “Khittah 1926” pada tahun 1984 yang ramai kembali digaungkan menjelang dihelatnya Muktamar NU Ke-35 nanti, merupakan momentum sangat penting untuk “menafsir” kembali ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah, arah dan gerakan serta kepemimpinan di tubuh organisasi (jam’iyyah) NU serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fiqih keagamaan maupun sosial NU. Merumuskan kembali hubungan NU dengan negara pada segala bidang yang selama ini hubungan itu nampak subordinasi (NU hanya menjadi anak bawang). Gerakan tersebut tentu akan merangsang dan membangkitkan kembali gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Gerakan-gerakan yang dilakukan NU itu tentu bersandar pada prinsip-prinsip dasar yang dicanangkan NU dan telah diterjemahkan dalam perilaku yang konkret. Hal itu menunjukkan bahwa organisasi ini hidup secara dinamis dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Tentunya, menjadi harapan besar bagi warga NU khususnya dan seluruh masyarakat-warga bangsa pada umumnya, di usianya yang seabad lebih ini NU mampu menghujam lebih dalam meluaskan ide dan gagasan serta terobosan besar nilai-nilai kebangsaan yang bertumpu pada kultur dan naturnya Indonesia untuk menyongsong era baru kepemimpinannya, yang bersumber dari ajaran Ahlusunnah wal Jama’ah an-Nahdliyyah (ajaran para Wali Songo). Menjadi jangkar sekaligus perekat bagsa. Menghasilkan kader-keader dan pemimpin atau nakhoda NU yang visioner-mendunia (seperti Gus Dur misalnya), yang mengayomi seluruh umat. Pemimpin milik umat dan punya keberpihakkan yang jelas pada nilai-nilai kerkayatan dan intelektual (terutama pada kaum intelektual muda NU).
Pada akhirnya, semoga pada Muktamar NU Ke 35 Tambak Beras Jombang ini, NU mampu menemukan kembali (reinventing) khittah-nya yang sangat fundamendal yang menyandarkan fundamen keorganisasian dan kepemimpinannya pada Qonun Asasi-nya Hadratus Syekh KH. M. Hasyim Asy’ari, Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga, dan Peraturan Pekumpulan NU lainnya. Sebab, ada indikasi penyelenggaraan organisasi NU selama beberapa tahun belakangan ini menyimpang dari ketentuan-ketentuan organisasi yang telah dirumuskan. Ditambah makin meruncingnya silang-pendapat, friksi, dan “terpecah” menjadi banyak kubu, yang pada gilirannya akan sangat merugikan jam’iyyah dan jama’ah NU sendiri. Dengan demikian, nakhoda baru NU tidak bisa dipimpin dan dilaksanakan oleh model kepemimpinan yang biasa-biasa saja, harus yang luar biasa. Sebab, tantangan kebangsaan dan NU ke depan juga sungguh luar biasa!
Disclaimer: (makalah ini merupakan pendapat pribadi, orang lain dapat saja berpendapat berbeda serta penulis tidak terikat-terkait dengan calon kandidat manapun. Murni suara hati nurani!)
Penulis adalah Intelektual Muda Ahlussunnah wal Jama’ah (ASWAJA),
Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB),
Founder Indonesia Young Leaders Forum;
Inisiator Yayasan Kedai Ide Pancasila,
(menulis banyak buku dan artikel)





