Surabaya – Permasalahan harga hingga tata niaga gula kembali menjadi perhatian petani tebu. Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (DPN APTRI) mendorong pemerintah mengambil langkah konkret untuk memperbaiki kondisi usaha tani tebu di tengah meningkatnya biaya produksi.
Salah satu tuntutan utama adalah penyesuaian HPP gula petani dari Rp14.500 menjadi Rp16.875 per kilogram, karena harga yang berlaku dinilai tidak lagi sebanding dengan kenaikan biaya pupuk, tenaga kerja, sewa lahan, tebang-angkut, dan transportasi.
APTRI juga meminta pemerintah mengevaluasi penerapan HET/HAP gula di tingkat konsumen. Pembatasan harga di tingkat hilir dinilai turut mempersempit ruang peningkatan harga gula petani ketika biaya produksi terus bertambah. Menurut APTRI, kebijakan harga gula perlu disusun dengan tetap menjaga daya beli masyarakat, namun pada saat yang sama memberikan margin usaha yang layak sehingga petani memiliki insentif untuk mempertahankan dan meningkatkan produksi tebu nasional.
Persoalan lain yang menjadi sorotan adalah rendemen tebu. APTRI mendorong rendemen minimal mencapai 8 persen, mengingat besaran rendemen menentukan jumlah gula yang diperoleh dari tebu yang digiling dan berpengaruh langsung terhadap pendapatan petani. Rendahnya rendemen di sejumlah pabrik gula menjadi keluhan karena hasil yang diterima petani dinilai belum sebanding dengan kualitas tebu dan biaya budidaya yang dikeluarkan. Oleh karena itu, peningkatan rendemen sekaligus transparansi dalam proses pengukurannya menjadi bagian penting dari tuntutan perbaikan hubungan antara petani dan industri gula.
APTRI menunjukkan bahwa persoalan pergulaan nasional tidak lagi hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, melainkan juga menyangkut kepastian harga, efisiensi pabrik gula, tata niaga, perlindungan pasar domestik, serta keberlanjutan pendapatan petani. Penyelesaian persoalan tersebut menjadi penting karena keberhasilan program swasembada gula akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga minat petani untuk terus menanam tebu sekaligus memastikan hasil produksi mereka memperoleh pasar dan nilai ekonomi yang layak.





