September Hitam, Eddy Prayitno Minta Masyarakat Tak Mudah Terpancing Narasi Provokatif

Eddy Prayitno Manajer Konten Loka TV
Eddy Prayitno Manajer Konten Loka TV

JAKARTA — Praktisi media sosial dari ICT Watch dan mantan Manajer Konten Loka TV, Eddy Prayitno alias MT, mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta paham radikalisme di ruang digital sepanjang September 2026.

Eddy menilai momentum yang kerap disebut sebagai “September Hitam” sebaiknya tidak dimaknai sebagai alasan untuk membangun kebencian terhadap sesama manusia. Menurutnya, berbagai peristiwa sejarah yang menjadi perhatian publik pada bulan September justru perlu ditempatkan sebagai bahan pembelajaran agar bangsa Indonesia dapat terus melakukan perbaikan.

“September Hitam jangan dijadikan sebagai bulan kebencian terhadap sesama manusia. Kita perlu melihat sejarah sebagai pembelajaran. Peristiwa masa lalu harus menjadi refleksi untuk membangun kehidupan bangsa yang lebih baik, bukan menjadi bahan untuk menyebarkan kebencian, permusuhan, maupun informasi yang tidak benar,” ujar Eddy.

Ia mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam menerima dan menyebarkan informasi di media sosial. Menurutnya, informasi yang belum terverifikasi dapat memperkeruh suasana dan memicu kesalahpahaman apabila disebarluaskan tanpa mempertimbangkan kebenaran serta dampaknya terhadap masyarakat.

Eddy juga mengajak pengguna media sosial untuk tidak mudah terpancing oleh konten provokatif, terutama konten yang mengandung ujaran kebencian, fitnah, manipulasi informasi, maupun narasi yang dapat memecah persatuan masyarakat.

“Jangan langsung percaya dan menyebarkan setiap informasi yang kita terima. Periksa sumbernya, cek kebenarannya, dan pikirkan dampaknya sebelum membagikan. Ruang digital harus kita jaga bersama agar tidak menjadi tempat berkembangnya kebencian dan permusuhan,” katanya.

Menurut Eddy, memperingati sejarah tidak berarti harus terus terjebak dalam konflik masa lalu. Sebaliknya, sejarah dapat menjadi pengingat bagi generasi saat ini untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih menghargai kemanusiaan, keberagaman, persatuan, dan perdamaian.

Ia juga menyerukan agar masyarakat tidak menggunakan isu September Hitam untuk menyebarkan stigma atau kebencian terhadap kelompok tertentu. Perbedaan pandangan, kata dia, dapat disampaikan melalui dialog dan cara-cara yang bertanggung jawab tanpa menghilangkan rasa kemanusiaan.

“Jadikan sejarah sebagai guru, bukan sebagai alasan untuk membenci. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi tetap harus saling menghormati sebagai sesama manusia dan sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” ujar Eddy.

Eddy berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat menjadi pengguna media sosial yang lebih cerdas dan bertanggung jawab. Ia menilai upaya melawan hoaks dan ujaran kebencian bukan hanya tugas pemerintah maupun platform digital, melainkan membutuhkan partisipasi seluruh pengguna internet.

“September harus menjadi momentum untuk belajar dari sejarah dan memperbaiki masa depan. Mari perangi hoaks, ujaran kebencian, dan radikalisme. Jangan wariskan kebencian kepada generasi berikutnya. Wariskan Indonesia yang lebih damai, kritis, dan menghargai kemanusiaan,” pungkasnya.

Pos terkait