Bandung – Prof. Dr.-Ing. Ir. Zulfiadi Zulhan, S.T., M.T., IPM, atau dikenal dengan Prof. Zulhan, selaku Guru Besar Teknik Metalurgi ITB, menjelaskan bahwa pengembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis merupakan langkah positif untuk menciptakan tata niaga logam tanah jarang (LTJ) yang transparan, terukur, dan terintegrasi. Bursa Mineral dapat mencatat dan menelusuri informasi mengenai jenis, kadar, volume, mutu, asal bahan baku, harga, dan tujuan transaksi. Selain itu, bursa dapat mendukung pembentukan harga acuan, penyelesaian transaksi, pengelolaan risiko, dan peningkatan integritas pasar. Berdasarkan POJK Nomor 16 Tahun 2026, BMKS diselenggarakan sebagai sistem pasar yang terorganisasi dan terintegrasi dengan mengedepankan transparansi, efisiensi, kewajaran, kepastian transaksi, dan manajemen risiko.
Prof. Zulhan menekankan bahwa pengembangan Bursa Mineral harus disertai standardisasi produk LTJ. Standardisasi tersebut meliputi klasifikasi mineral, kadar unsur LTJ, tingkat kemurnian, bentuk produk, metode pengujian, spesifikasi teknis, dan kandungan unsur radioaktif. Dengan demikian, penentuan harga tidak hanya didasarkan pada volume, tetapi juga pada mutu, kadar, tingkat kemurnian, bentuk produk, dan nilai tambahnya. Produk yang memenuhi persyaratan mutu, kuantitas, penyimpanan, dan administrasi dapat dinyatakan layak diperdagangkan (tradable) dalam sistem BMKS.
Menurut Prof. Zulhan, reaktor plasma hidrogen berpotensi mendukung hilirisasi mineral yang lebih ramah lingkungan. Penggunaan hidrogen sebagai reduktor dapat mengurangi ketergantungan terhadap batu bara dan menekan emisi karbon dalam proses produksi logam. Teknologi ini juga berpotensi mengolah mineral ikutan, tailing, slag, residu, dan material yang mengandung LTJ sehingga mendukung ekonomi sirkular. Namun, penerapannya perlu dilakukan secara bertahap melalui penelitian, pengujian laboratorium, pembangunan pilot plant, kajian keekonomian, analisis keselamatan, dan evaluasi lingkungan.
Prof. Zulhan juga menilai bahwa LTJ perlu dikembangkan sebagai mineral strategis dalam satu rantai nilai nasional. LTJ dapat dimanfaatkan untuk industri kendaraan listrik, energi terbarukan, elektronik, semikonduktor, pertahanan, dan teknologi tinggi. Indonesia perlu mengoptimalkan LTJ yang terdapat sebagai mineral ikutan dalam pengolahan timah, nikel, bauksit, zirkon, dan emas, termasuk dari monasit, xenotim, red mud, tailing, dan residu. Untuk mewujudkannya, diperlukan regulasi yang jelas, koordinasi lintas sektor, dukungan perguruan tinggi dan industri, serta integrasi Bursa Mineral dengan teknologi pengolahan rendah emisi agar nilai tambah, kedaulatan mineral, dan daya saing nasional dapat meningkat.





