JAKARTA — Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fatimah Azzahra, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan berbagai isu dan peristiwa yang dikenang sebagai “September Hitam” sebagai bahan refleksi bersama, bukan sebagai sumber perpecahan di tengah masyarakat.
Menurut Fatimah, berbagai peristiwa masa lalu perlu ditempatkan sebagai bagian dari perjalanan sejarah bangsa yang dapat menjadi pembelajaran bagi generasi saat ini. Ia berharap pengalaman tersebut dapat mendorong pemerintah dan seluruh elemen masyarakat untuk terus melakukan evaluasi serta membangun kehidupan berbangsa yang lebih baik.
“September Hitam sudah berlalu. Yang penting bagi kita sekarang adalah bagaimana menjadikan berbagai peristiwa tersebut sebagai pembelajaran dan refleksi agar ke depan tidak terjadi kembali hal-hal yang merugikan masyarakat. Kita harus mengambil pelajaran dari sejarah untuk membangun Indonesia yang lebih baik,” ujar Fatimah.
Ia juga mengapresiasi upaya seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa, pelajar, buruh, dan kelompok masyarakat lainnya, dalam menjaga situasi tetap kondusif sehingga aktivitas masyarakat dapat berjalan dengan aman.
Fatimah menilai kondisi yang aman dan tertib merupakan kepentingan bersama. Menurutnya, masyarakat membutuhkan ruang yang kondusif untuk bekerja, belajar, menjalankan usaha, serta menyampaikan aspirasi secara bertanggung jawab.
“Keamanan dan kondusivitas adalah tanggung jawab bersama. Masyarakat harus bisa bekerja dengan aman, mahasiswa dan pelajar dapat menjalankan aktivitas pendidikan, dan semua pihak tetap dapat menyampaikan aspirasi secara damai,” katanya.
Memasuki peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober 2026, Fatimah berharap momentum tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah dan masyarakat untuk melakukan refleksi terhadap perjalanan bangsa. Pemerintah diharapkan terus memperhatikan berbagai persoalan dan aspirasi masyarakat dalam upaya meningkatkan kesejahteraan.





