Jaga Keutuhan Bangsa, Sadam Ajak Elemen Pergerakan Kedepankan Perdamaian pada 10 November

Hari Pahlawan 2026
Hari Pahlawan 2026

JAKARTA – Menjelang Peringatan Hari Pahlawan pada 10 November 2026, arus aspirasi masyarakat dari berbagai elemen diprediksi akan kembali menggema di jalanan. Mengusung semangat tema nasional “Pahlawanku Teladanku: Melangkah Bersama, Melanjutkan Perjuangan” yang diselaraskan dengan tantangan global—seperti krisis iklim, ketimpangan ekonomi, dan ketidakpastian geopolitik dunia—aksi menyuarakan pendapat menjadi salah satu bentuk nyata penyampaian suara rakyat.

Namun, di tengah tingginya tensi pergerakan massa, seorang mahasiswa bernama Sadam tampil menyerukan pesan perdamaian dan ketertiban. Sadam menegaskan pentingnya menjaga stabilitas Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Kamtibmas) serta menghindari segala bentuk aksi anarkis selama menyuarakan aspirasi.

“Menjadi pahlawan di era modern tidak lagi dengan mengangkat senjata, melainkan dengan menjaga keutuhan bangsa saat kita menuntut keadilan,” tegas Sadam dalam keterangannya kepada awak media, Rabu (4/11/2026).

“Perjuangan kita dalam merespons isu-isu global seperti keadilan ekonomi dan kelestarian lingkungan harus dilakukan dengan bijak, tanpa mengorbankan keamanan publik.”

Sadam mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari kalangan mahasiswa, serikat buruh, kelompok tani, hingga masyarakat umum—untuk bersatu dalam mengawal isu-isu strategis nasional dan global secara tertib. Ia menyoroti pentingnya menyampaikan pendapat di muka umum sesuai dengan koridor hukum yang berlaku, yakni UU No. 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.

“Aksi unjuk rasa adalah hak konstitusional setiap warga negara. Namun, UU No. 9 Tahun 1998 merefleksikan bahwa hak tersebut hadir bersama kewajiban untuk menghormati hak orang lain dan menjaga ketertiban umum. Kita ingin suara kaum buruh, petani, dan mahasiswa didengar oleh pembuat kebijakan, bukan malah tertutup oleh narasi kerusuhan atau pengrusakan fasilitas umum,” jelasnya.

Lebih lanjut, Sadam mengingatkan bahwa anarkisme hanya akan merugikan perjuangan rakyat itu sendiri dan merusak fokus pesan yang ingin disampaikan. Ia mendorong para koordinator lapangan dari setiap elemen untuk menguatkan barisan pengamanan internal guna mengantisipasi potensi provokasi yang dapat memicu kericuhan.

“Peringatan Hari Pahlawan 2026 harus menjadi momentum pembuktian bahwa gerakan rakyat Indonesia adalah gerakan yang dewasa, santun, dan substantif. Mari kita tunjukkan bahwa semangat pahlawan hidup dalam cara kita berjuang secara damai demi masa depan yang lebih baik,” pungkas Sadam.

Melalui imbauan ini, diharapkan aksi perayaan dan demonstrasi memperingati Hari Pahlawan 2026 dapat berjalan kondusif, menjadi ruang aspirasi yang sehat, serta melahirkan solusi bagi tantangan bangsa dan global.

Pos terkait