Jakarta – Situasi global tengah mengalami dinamika yang meningkat seiring eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Kondisi tersebut mendorong lahirnya berbagai inisiatif internasional, salah satunya Board of Peace (BoP), sebuah forum yang ditujukan untuk meredakan konflik dan mendorong perdamaian di kawasan Timur Tengah, di mana Indonesia turut terlibat.
Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menilai langkah Indonesia bergabung dalam BoP sebagai bagian dari upaya konstruktif dalam mendukung terciptanya perdamaian global.
“Keikutsertaan Indonesia dapat dipahami sebagai bentuk kontribusi dalam mendorong penghentian konflik, khususnya di Timur Tengah,” ujar Hikmahanto, hari ini.
Ia juga menambahkan bahwa kedekatan emosional dan historis masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Muslim dengan masyarakat di kawasan Timur Tengah turut menjadi salah satu faktor yang melatarbelakangi perhatian Indonesia terhadap isu tersebut.
Meski demikian, Hikmahanto menekankan pentingnya Indonesia tetap menjaga posisi strategis sebagai negara yang independen dan tidak berpihak.
“Indonesia harus tetap berada di tengah, tidak memihak pada kekuatan mana pun, sejalan dengan prinsip politik luar negeri bebas aktif dan posisi sebagai negara non-blok,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak kalangan akademisi, civitas akademika, serta mahasiswa untuk menyikapi kebijakan pemerintah secara bijak dan proporsional, termasuk terkait keterlibatan dalam BoP.
Menurutnya, setiap kebijakan luar negeri yang diambil pemerintah pada dasarnya telah melalui pertimbangan matang dengan orientasi pada kepentingan nasional serta kontribusi terhadap perdamaian dunia.
“Perlu ada dukungan yang konstruktif dari berbagai elemen masyarakat, sembari tetap membuka ruang diskusi dan kajian akademik yang objektif,” pungkasnya.





