Punya Nuklir, Iran dan Pakistan Ideal bagi Khilafah Hizbut Tahrir

Ilustrasi Hizbut Tahrir
Ilustrasi Hizbut Tahrir

Oleh: Ayik Heriansyah

Saya tidak merekomendasikan, tidak mendukung dan tidak setuju Hizbut Tahrir mendirikan khilafah di Indonesia karena tiga alasan yaitu alasan syar’i, alasan geopolitik dan alasan kemiliteran.

Dari aspek syar’i, sejak al-Quran diturunkan lalu dibukukan dalam sebuah kitab dan dihafal jutaan orang di seluruh dunia hingga hari ini, tidak ditemukan ayat (manthuq dan mafhum) yang menyebutkan Indonesia menjadi lokasi tempat berdirinya Khilafah Tahririyah.

Dalam hadis Nabi saw pun demikian. Dari sejak zaman para sahabat menghafal hadis dan mencatatnya untuk keperluan pribadi mereka sampai zaman para imam pengumpul hadis yang dibukukan dalam kitab shahih, sunan dan musnad, pun tidak disebut-sebut Indonesia akan menjadi lokasi tempat tegaknya Khilafah Tahririyah.

Dari aspek geopolitik, Indonesia terletak di Asia Tenggara. Terletak di sudut Asia. Indonesia dikelilingi oleh negara-negara non Islam: Australia, Cina-Indo Cina, Korea, Jepang dan India. Mereka negara besar yang ideologis. Membuat Indonesia terisolasi, terpisah dari negara-negara muslim di Asia Selatan, Asia Tengah, Asia Barat dan Afrika Utara.

Realitas geopolitik seperti ini kurang mendukung bagi berdirinya Khilafah Tahririyah sebab, satu hari atau satu minggu pasca deklarasi berdirinya Khilafah Tahririyah; Amerika, Australia, Cina, Korea, Jepang dan India menyatakan menolak. Menyatakan perang terhadap Khilafah Tahririyah. Mereka akan menyerang dengan kapal-kapal perang, pesawat tempur dan rudal-rudal balistik berhulu ledak nuklir.

Jika Khilafah Tahririyah minta bantuan negara-negara muslim katakanlah yang kuat secara militer yaitu Pakistan dan Iran, maka akan kesulitan secara teknis karena posisi kedua negara ini terhadap Indonesia terhalang oleh India dan Cina. Pakistan dan Iran akan kesulitan melakukan mobilisasi pasukan dan peralatan tempur.

Dari aspek kemiliteran, Indonesia memang termasuk negara dengan sumber daya manusia militer yang kuat. Indonesia punya tentara yang banyak. Ditambah komponen cadangan. Hanya saja alat utama sistem senjata (alutsista) Indonesia masih banyak bergantung ke negara-negara lain. Masih impor, termasuk suku cadangnya. Indonesia memang punya industri pertahanan sendiri, akan tetapi belum secanggih Amerika, Cina dan India. Ditambah Indonesia juga tidak mempunyai senjata nuklir.

Sehingga ketika Khilafah Tahririyah diserang, akan kesulitan menahannya. Khilafah Tahririyah akan kesulitan mempertahankan dirinya. Khilafah Tahririyah collapse. Tidak sempat mau menaklukkan Israel, Eropa dan Amerika lalu menyebarkan Islam di sana. Hal-hal inilah yang membuat Indonesia kurang ideal untuk dijadikan lokasi tempat berdirinya Khilafah Tahririyah.

Sebenarnya secara syar’i karena didukung oleh hadis-hadis tentang akhir zaman dan Imam Mahdi, lokasi yang ideal bagi Hizbut Tahrir untuk mendirikan Khilafah adalah di jazirah Arab dan bumi Syam. Akan tetapi Hizbut Tahrir punya pandangan, bahwa Khilafah harus didukung oleh militer yang kuat. Harus dipertahankan oleh pasukan dan alutsista yang setara dengan negara-negara musuh. Pasukan dan alutsista yang dapat mempertahankan Khilafah dari serangan Amerika, Cina, Eropa, India dan Rusia.

Jika demikian dan jika Hizbut Tahrir mengabaikan hadis-hadis tentang akhir zaman dan Imam Mahdi, maka Iran dan Pakistan lah lokasi paling cocok bagi Khilafah Tahririyah. Keduanya punya militer kuat. Pakistan punya 170 hulu ledak nuklir. Iran potensi dan kemampuan untuk membuat senjata nuklir. Pakistan sudah teruji menang perang udara melawan India Mei 2025 lalu, sedangkan Iran sudah teruji mampu meladeni perang melawan Amerika-Israel dari 28 Februari sampai sekarang.

Jika enggan mendirikan Khilafah di jazirah Arab dan bumi Syam, sebaiknya Hizbut Tahrir fokus beraktivitas di Pakistan dan Iran sampai Khilafah tegak. Ketimbang berjuang di Indonesia. Lokasi yang tidak syar’i dan kurang ideal secara geopolitik dan militer bagi tegaknya sebuah negara Khilafah Tahririyah.

Pos terkait