Jelang HUT ke-81 RI, ARSC Minta Pemerintah Perkuat Komunikasi Partisipatif dengan Masyarakat

Konsultan Politik ARSC Dimas Oky Nugroho
Konsultan Politik ARSC Dimas Oky Nugroho

JAKARTA — Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81, Direktur Eksekutif Akar Rumput Strategic Consulting (ARSC), Dr. Dimas Oky Nugroho, M.A., menyerukan pentingnya merevitalisasi semangat nasionalisme di kalangan generasi muda melalui pemahaman sejarah bangsa yang mendalam. Di saat yang sama, ia juga mendorong pemerintah untuk membuka ruang komunikasi yang lebih insklusif, intensif, dan berempati dengan masyarakat.

Dimas mengungkapkan bahwa sejarah perjuangan bangsa Indonesia bukanlah sekadar deretan angka atau catatan masa lalu di buku teks, melainkan fondasi nilai yang mendasari keberadaan Republik. Menuju momentum 81 tahun Indonesia merdeka, tantangan utama pemuda bukan lagi melawan kolonialisme fisik, melainkan menjaga kedaulatan, persatuan, serta integritas di tengah perubahan global yang cepat.

“Anak muda adalah motor penggerak sejarah Indonesia, dari era Sumpah Pemuda hingga Kemerdekaan 1945. Agar rasa cinta tanah air itu tumbuh secara otentik dan bukan sekadar slogan, generasi muda harus kembali menyelami sejarah bangsanya. Kesadaran sejarah akan memberikan pijakan moral, arah, dan rasa bangga bahwa Indonesia berdiri atas pengorbanan serta kolaborasi besar para pendiri bangsa,” ujar Dimas dalam keterangannya.

Menurut pakar antropologi politik tersebut, pembelajaran sejarah perlu disampaikan dengan pendekatan yang relevan bagi generasi digital—melalui narasi yang kontekstual, kreatif, dan aplikatif dalam menjawab persoalan-persoalan kekinian.

Selain menekankan peran pemuda, Dimas Oky Nugroho turut mengingatkan pentingnya tata kelola pemerintahan yang responsif. Ia menilai keberhasilan pembangunan dan stabilitas nasional menuju Indonesia Emas sangat bergantung pada kualitas hubungan antara negara dan warganya. Oleh karena itu, pemerintah diimbau untuk lebih aktif dan jujur dalam berkomunikasi dengan publik.

“Pemerintah perlu memperbanyak ruang dialog yang partisipatif dan tidak kaku. Komunikasi publik tidak boleh hanya bersifat satu arah atau sekadar sosialisasi kebijakan, melainkan harus mendengarkan aspirasi, kekhawatiran, serta masukan dari rakyat, khususnya kelompok muda. Ketika komunikasi terbangun secara terbuka dan penuh empati, kepercayaan publik (public trust) akan menguat, dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap bangsa ini akan makin kokoh,” tegas mantan Staf Khusus Kantor Staf Presiden RI tersebut.

Menutup keterangannya menjelang peringatan kemerdekaan ke-81 RI, ARSC berharap refleksi Kemerdekaan RI tahun ini dapat dijadikan momen konsolidasi nasional. Pemuda diharapkan mampu menjadi agen perubahan berkarakter kuat yang berpijak pada sejarah, sementara pemerintah hadir sebagai pengayom yang terhubung erat dengan sanubari rakyatnya.

Pos terkait