BEM Uhamka Minta Mahasiswa Evaluasi Pola Aksi yang Picu Antipati Publik

BEM UHAMKA
BEM UHAMKA

JAKARTA — BEM Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) mengimbau seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk mengembalikan gerakan mahasiswa pada substansi dan isu yang diperjuangkan, bukan justru terjebak dalam ruang konfrontasi dengan aparat yang pada akhirnya mengaburkan pesan utama aksi.

BEM Uhamka menilai aksi mahasiswa harus menjadi ruang penyampaian gagasan, kritik, dan tuntutan publik secara terukur, bukan sekadar arena adu provokasi yang tidak memberikan nilai tambah bagi perjuangan.

“Mahasiswa turun ke jalan untuk menyuarakan tuntutan rakyat, bukan mencari lawan di lapangan. Jangan sampai tuntutan yang sudah disusun melalui kajian justru tidak terdengar karena kita lebih sibuk berkonfrontasi dengan aparat. Kritik harus keras dan tegas, tetapi tetap memiliki arah, argumentasi, serta tujuan yang jelas,” ujar BEM Uhamka.

BEM Uhamka menilai terdapat kecenderungan dalam sejumlah aksi di mana energi massa justru lebih banyak tersita untuk mencaci, memprovokasi, atau mencoba mempermalukan aparat. Sementara itu, tuntutan substantif yang seharusnya disampaikan kepada pemerintah justru tenggelam.

Pola semacam ini, menurut BEM Uhamka, perlu dievaluasi karena dapat menggeser persepsi publik. Gerakan yang seharusnya memperjuangkan kepentingan masyarakat justru dapat dipandang sebagai aksi yang identik dengan kegaduhan dan konflik di lapangan.

BEM Uhamka juga mengingatkan bahwa kebebasan menyampaikan pendapat harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial. Penutupan jalan secara berlebihan, tindakan provokatif, maupun aktivitas yang mengganggu ketertiban dan merugikan masyarakat berpotensi menurunkan simpati publik terhadap gerakan mahasiswa.

“Ketika masyarakat yang seharusnya menjadi pihak yang diperjuangkan justru merasa dirugikan, gerakan mahasiswa harus berani melakukan evaluasi. Kebebasan menyampaikan pendapat harus tetap disertai tanggung jawab sosial,” katanya.

Karena itu, BEM Uhamka mengajak seluruh elemen pemuda dan mahasiswa membangun kembali tradisi gerakan yang kritis, berbasis kajian, disiplin, dan berorientasi pada substansi tuntutan.

Menurut BEM Uhamka, ketegasan tidak harus diwujudkan melalui konfrontasi. Kekuatan mahasiswa justru terletak pada argumentasi, konsistensi mengawal isu, kemampuan membangun dukungan masyarakat, serta keberanian memastikan setiap aksi menghasilkan tekanan publik yang konstruktif terhadap pengambil kebijakan.

“Jangan biarkan substansi perjuangan kalah oleh kegaduhan. Fokuskan energi untuk mengawal isu dan kebijakan yang menyangkut kepentingan rakyat. Aksi yang kuat bukan aksi yang paling gaduh, melainkan aksi yang tuntutannya paling jelas, argumentasinya paling kokoh, dan mampu memperoleh kepercayaan masyarakat,” pungkas BEM Uhamka.

Pos terkait