JAKARTA — Republik Kandang Babi atau yang dikenal dengan sebutan RK13 lahir dari sebuah cerita yang sederhana, unik, sekaligus penuh ironi. Berawal dari sebuah rumah di Sragen yang pada masanya jauh dari kata rapi, tempat itu justru menjadi ruang lahirnya berbagai gagasan tentang kebersamaan, kreativitas, perjalanan, dan aktivitas sosial.
Bagi Aan Aris Munandar, Pendiri Republik Kandang Babi, kenangan tentang tempat tersebut masih terasa dekat. Rumah yang kala itu tampak berantakan, kumuh, bahkan disebutnya seperti “kandang babi”, justru menjadi titik awal terbentuknya sebuah semesta bernama RK13.
“Awalnya dari rumah saya di Sragen yang benar-benar tampak seperti kandang babi, berantakan, kumuh, dan jelek pada saat itu. Tapi di sana terlahir banyak gagasan tentang kebersamaan,” ujar Aan Aris Munandar saat diwawancarai oleh media di Jakarta, Sabtu (19/9).
Selanjutnya, kata Aan, Nama “Kandang Babi” kemudian semakin melekat setelah warga sekitar mulai memperhatikan aktivitas Aan bersama kawan-kawannya. Saat itu, internet belum menjadi ruang yang umum dipahami masyarakat sebagai tempat mencari penghasilan.
Para kawan yang datang dari berbagai daerah umumnya merupakan pekerja lepas di dunia internet, mulai dari programmer, pentester, bug hunter hingga trader Bitcoin. Aktivitas tersebut rupanya memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat.
“Waktu itu internet masih dianggap aneh bagi sebagian orang. Karena kawan-kawan datang dari jauh, bekerja dari internet, dan menghasilkan uang dari sana, akhirnya muncul macam-macam anggapan. Bahkan ada yang mengira kami memelihara babi ngepet,” tutur Aan.
Alih-alih menghindari stigma tersebut, Aan dan kawan-kawannya justru memilih mengambil nama itu dan menjadikannya identitas.
Dari situlah nama Republik Kandang Babi semakin sering digunakan dalam berbagai aktivitas, termasuk perjalanan touring, kegiatan sosial, kreativitas, hingga berbagai kolaborasi.
Dari “Kandang Babi” Menjadi Republik
Menurut Aan, kata “Republik” dalam RK13 tidak dimaksudkan sebagai simbol politik. Ia merujuk pada makna res publica, sesuatu yang berkaitan dengan kepentingan atau ruang publik.
Seiring waktu, semakin banyak orang, kelompok, klub, komunitas, dan berbagai entitas yang bersinggungan dengan RK13. Dari situlah istilah “Republik” semakin menemukan maknanya sebagai ruang bersama.
“Republik itu dari res publica, sesuatu untuk publik. Jadi bagi kami ini adalah ruang publik. RK13 tidak ingin dibatasi hanya sebagai gerakan, kelompok, organisasi masyarakat, atau kategori tertentu,” jelasnya.
Karena itu, RK13 memilih memandang dirinya sebagai sebuah semesta yang terus berkembang.
“Kalaupun sekarang disebut sebagai ruang, kami adalah semesta itu sendiri,” kata Aan.
Dalam semesta tersebut, RK13 juga memiliki istilah sendiri untuk menyebut orang-orang yang terlibat. Mereka tidak disebut sebagai anggota. RK13 menyebut mereka sebagai “kawan-kewan.”
Bukan Soal Jumlah, Melainkan Kontribusi
Bagi RK13, identitas tidak ditentukan oleh kartu anggota, struktur organisasi, maupun angka tertentu.
Siapa pun yang masih aktif berkontribusi, baik secara offline maupun online, termasuk membuat konten dan berkolaborasi dengan akun Instagram @Republik_Kandang_Babi, dapat menjadi bagian dari semesta RK13.
Aan melihat kawan-kewan RK13 sebagai orang-orang yang tidak merasa risih membawa identitas “BABI” sebagai bagian dari ekspresi mereka.
Mereka terdiri dari para kreator, pemikir, pekerja kreatif, serta individu-individu yang berani menyuarakan keresahan dengan caranya masing-masing.
Bahkan tindakan sederhana seperti menempelkan stiker RK13 dipandang sebagai bagian dari ekspresi tersebut.
“Yang menarik adalah mereka tidak risih menjadi bagian dari sesuatu yang secara eksplisit menyebut BABI. Ada yang berkarya, ada yang berpikir, ada yang menyuarakan keresahan, bahkan ada yang hanya menempel stiker. Semua itu punya makna,” ujar Aan.
Motor Kustom dan Semangat Do It Yourself
Secara visual, kawan-kewan RK13 juga kerap dikenali melalui kendaraan yang mereka gunakan.
Motor kustom dan motor klasik menjadi salah satu medium ekspresi yang cukup kuat. Kendaraan-kendaraan tersebut umumnya tidak sekadar mengambil konsep plug and play, tetapi dibangun dengan pendekatan Do It Yourself (DIY).
Bagi RK13, motor bukan sekadar alat transportasi. Ia menjadi bagian dari kultur, kreativitas, identitas, sekaligus cara seseorang mengekspresikan dirinya.
“Semangat membangun sendiri tersebut sejalan dengan karakter RK13 yang tidak ingin terlalu bergantung pada pola-pola lama,” kata Aan.
Kritis terhadap Apa Pun yang Bersifat Publik
Penggunaan kata “Republik” dalam nama RK13 juga tidak jarang menimbulkan persepsi bahwa kelompok tersebut merupakan entitas yang secara khusus mengkritik pemerintah. Aan menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.
“RK13 tidak hanya mengkritisi pemerintah. RK13 kritis terhadap apa saja yang bersifat publik,” tegasnya.
Ia menyebut bahwa berbagai tafsir terhadap nama RK13 merupakan sesuatu yang tidak selalu perlu diluruskan.
Bahkan ketika nama “Republik Kandang Babi” ditafsirkan secara berbeda-beda, RK13 memilih untuk tidak terlalu sibuk memberikan klarifikasi.
“RK13 jarang mengklarifikasi karena memang bukan tugas RK13 untuk memperbaiki kesalahpahaman dari multitafsir,” ujarnya.
Menurutnya, RK13 justru ingin dinilai dari apa yang dibangun, dilakukan, dan diperjuangkan. Bukan sekadar dari nama.
Tidak Ingin Menjadi Pengkritik Tanpa Solusi
Meski memiliki karakter kritis, RK13 tidak ingin berhenti pada aktivitas mengkritik.
Aan mengatakan, kritik harus berjalan bersama gagasan dan tindakan yang memberikan manfaat bagi publik.
“RK13 tegas tidak ingin menjadi pengkritik tanpa menyalakan ide-ide dan melakukan hal-hal yang lebih bermanfaat untuk publik,” katanya.
Karena itu, perjalanan, aktivitas kreatif, kegiatan sosial, produksi konten, kolaborasi, hingga berbagai eksperimen menjadi bagian dari cara RK13 membangun ruangnya sendiri.
Menjauh dari Politik Praktis!
Satu hal yang menurut Aan juga penting ditegaskan adalah posisi RK13 terhadap politik praktis.
RK13 tidak memiliki keinginan untuk menjadi bagian dari politik praktis.
“RK13 tidak akan dan tidak ada keinginan sama sekali untuk terikat, terjun, atau menyentuh politik praktis. Itu bukan bagian dari ide RK13,” tegas Aan.
Baginya, RK13 memiliki jalan sendiri. Jalan tersebut adalah membangun sebuah skena, kultur, dan semesta yang tumbuh melalui kreativitas, kebersamaan, keberanian berekspresi, serta aktivitas nyata.
Membangun Semesta dan Meninggalkan Jejak
Pada akhirnya, RK13 bukan sekadar nama yang lahir dari sebuah rumah yang pernah disebut seperti kandang babi.
Ia berkembang menjadi identitas yang dibangun dari perjalanan panjang, pertemanan, kreativitas, motor, internet, kegiatan sosial, gagasan, dan keberanian untuk tampil berbeda.
Aan mengatakan RK13 ingin membangun skenanya sendiri dan suatu hari dikenang bukan karena mengikuti pola yang sudah ada, tetapi karena berani menciptakan sesuatu yang berbeda.
“RK13 lebih ingin membangun skena semestanya sendiri dan dikenang sebagai legenda dengan hal-hal yang tidak bisa dijalankan dengan cara-cara lama,” pungkas Aan.
Dari sebuah rumah sederhana di Sragen, sebuah nama yang awalnya lahir dari olok-olok lingkungan justru berkembang menjadi identitas bersama.





