Oleh : Ayik Heriansyah</strong
Dalam diskursus gerakan radikal-teror di Indonesia, penyamaan antara HTI dan JI sering muncul dalam satu kategori yaitu sama-sama kelompok radikal.
Penyamaan itu biasanya bertolak dari sejumlah irisan gagasan, terutama penolakan terhadap demokrasi sekuler, kritik terhadap negara-bangsa modern (nation-state), serta aspirasi penerapan syariat Islam dalam struktur politik yang lebih luas (khilafah).
Namun, menyamakan keduanya tanpa membedakan metode, struktur, dan orientasi gerakan justru menghasilkan pembacaan yang kurang presisi. Secara objektif, terdapat perbedaan mendasar antara keduanya. Dalam pengertian tertentu, dapat dikatakan HTI tidak se-JI itu.
HTI berkembang sebagai gerakan politik-ideologis yang bertumpu pada propaganda pemikiran dan pembentukan opini publik. Mereka memandang perubahan negara harus dimulai dari perubahan cara berpikir masyarakat melalui kaderisasi, pembinaan, dan perjuangan politik non-kekerasan.
Sebaliknya, JI dalam sejarah perkembangannya lebih dikenal sebagai jaringan tertutup yang pada periode tertentu menempatkan penggunaan kekuatan dan instrumen kekerasan sebagai bagian dari strategi perubahan. Karena itu, walaupun sama-sama membawa isu perubahan, peta jalan yang ditempuh keduanya berbeda secara fundamental.
Perbedaan pertama terlihat pada metodologi perjuangan. HTI membangun teori perubahan yang sering dijelaskan melalui tiga tahap. Pembinaan kader (tatsqif), interaksi dengan masyarakat (tafa’ul ma‘al ummah), dan pencarian dukungan kekuasaan (tholabun nusrah) untuk transisi politik menuju pendirian khilafah.
Dalam kerangka tersebut, penggunaan senjata bukan batang tubuh perjuangan. Melainkan bagian akhir (finishing). Adapun JI secara historis mengembangkan gagasan bahwa perubahan politik membutuhkan konfrontasi fisik, pembentukan kemampuan tempur, serta jaringan operasional yang tertutup.
Karena perbedaan metode itu, karakter sumber daya manusia yang dibangun juga berbeda. HTI lebih menekankan pembentukan kader ideologis yang mampu berdiskusi, berargumentasi, menulis, berbicara di ruang publik, dan memproduksi narasi politik. Sebaliknya, JI lebih banyak membentuk kader yang memiliki loyalitas organisasi tinggi, disiplin internal, kemampuan menjaga kerahasiaan, dan pada fase tertentu kemampuan melakukan operasional lapangan.
Dari sisi jumlah dan kualitas SDM serta kemampuan mobilisasi massa dan opini, HTI dikenal sebagai gerakan dengan daya jangkau massa yang besar. Pada masa sebelum pembubarannya tahun 2017, HTI dikenal mampu menyelenggarakan kegiatan terbuka berskala besar dan menghadirkan peserta dalam jumlah sangat besar di berbagai kota.
Kemampuan menggalang massa dalam skala ratusan ribu orang pada momentum tertentu dipandang sebagai indikator keberhasilan kaderisasi dan jaringan luas dan solid. Sebaliknya, JI secara historis berkembang sebagai organisasi yang lebih ramping, selektif, dan tidak berorientasi pada mobilisasi massa secara terbuka.
Kekuatan HTI juga pada kualitas SDM. Sebaran SDM mencakup kalangan akademisi, profesional, teknokrat, tenaga medis, dosen, guru, serta kelompok terdidik lainnya. Ada puluhan anggota HTI yang bergelar profesor, ratusan doktor dan dokter, ribuan magister, serta belasan ribu sarjana. Hal ini menunjukkan mereka menyiapkan kader-kader dengan kapasitas mampu mengelola sebuah negara.
Latar belakang sosial kader juga menunjukkan perbedaan menarik. Basis HTI banyak tumbuh di kalangan mahasiswa kampus umum, profesional muda, kelas menengah perkotaan, teknokrat, guru, dan aktivis intelektual. Kekuatan mereka berada pada produksi gagasan dan kemampuan persuasi. Sebaliknya, JI secara historis lebih banyak bertumpu pada jaringan pendidikan internal, komunitas kader yang lebih homogen, serta penguatan militansi dan daya tahan organisasi.
Perbedaan berikutnya tampak pada struktur jaringan. HTI bergerak melalui model transnasional yang bersandar pada keseragaman ideologi lintas negara. Koneksi pemikiran menjadi modal utama mereka. Jaringannya cenderung horizontal, tersebar, dan bergantung pada reproduksi gagasan. Di sisi lain, JI lebih berkembang sebagai jaringan regional yang bertumpu pada hubungan personal, ikatan organisasi, aset riil, serta struktur kepercayaan yang kuat antaranggota.
Dalam konteks Indonesia, salah satu aspek yang sering dibahas adalah strategi penetrasi HTI di dalam pemerintahan. Berbeda dengan JI yang historisnya bergerak melalui pola sel tertutup, HTI dikenal memanfaatkan ruang publik dan institusi formal sebagai arena propaganda politik. Kampus menjadi penting karena dipandang sebagai tempat lahirnya calon elite negara seperti birokrat, teknokrat, akademisi, dan pengambil kebijakan masa depan.
Strategi semacam itu relatif efektif karena dikemas dengan pendekatan modern dan rasional. Diskusi geopolitik, analisis ekonomi, kritik kebijakan publik, serta pendekatan sistematis membuat publik merasa sedang memasuki ruang intelektual yang menawarkan jawaban menyeluruh atas problem masyarakat. Bagi sebagian kalangan, daya tarik HTI justru terletak pada kemampuan mereka menyederhanakan persoalan kompleks menjadi kerangka ideologis yang paripurna.
Walhasil, memahami bahwa “HTI tidak se-JI itu” bukanlah upaya memutihkan ataupun menghitamkan salah satu kelompok, melainkan usaha menjaga ketepatan analisis. JI lebih banyak dipandang sebagai tantangan terhadap keamanan fisik karena sejarah metode dan jejaringnya. Sementara HTI menjadi ancaman ideologis melalui penetrasi gagasan dan pembentukan opini publik.
Keduanya sama-sama menuntut perhatian, tetapi melalui pendekatan yang berbeda. Menyamakan keduanya dapat melahirkan kebijakan yang keliru. Dan menutup mata terhadap perbedaan keduanya membuat pembacaan menjadi tidak utuh.





