Jakarta – Gerakan Pemuda Islam (GPI) mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh isu-isu provokatif yang mengarah pada sentimen SARA, menyusul polemik pernyataan JK yang dinilai sebagian pihak sebagai bentuk penistaan agama dan telah dilaporkan oleh GAMKI.
Dalam keterangannya, GPI menegaskan bahwa perbedaan pandangan dalam ruang publik merupakan hal yang wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk memicu konflik horizontal, terlebih dengan membawa-bawa isu agama yang sensitif.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang dapat memecah belah. Setiap persoalan hendaknya disikapi secara bijak dan diserahkan kepada mekanisme hukum yang berlaku,” tegas perwakilan GPI.
GPI juga mengingatkan bahwa Indonesia dibangun di atas fondasi keberagaman, di mana nilai toleransi dan saling menghormati antar umat beragama menjadi pilar utama dalam menjaga persatuan bangsa.
Lebih lanjut, GPI mengajak seluruh tokoh masyarakat, pemuda, dan organisasi lintas agama untuk bersama-sama meredam tensi serta menjaga ruang publik tetap kondusif dari narasi kebencian.
“Momentum ini harus kita jadikan pengingat bahwa ukhuwah dan toleransi adalah kekuatan kita sebagai bangsa. Jangan sampai perbedaan justru dimanfaatkan untuk memecah persatuan,” lanjutnya.
GPI menegaskan bahwa menjaga harmoni sosial merupakan tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan dapat berperan aktif dalam menciptakan suasana yang damai, saling menghargai, dan berorientasi pada kemajuan bangsa.
Sebagai penutup, GPI mengajak seluruh masyarakat untuk terus memperkuat ukhuwah, menumbuhkan sikap saling menghormati antar umat beragama, serta menjaga persatuan demi Indonesia yang lebih maju dan harmonis.





