Jakarta – Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) mengajak seluruh elemen mahasiswa dan buruh untuk tidak terpengaruh oleh berbagai isu provokatif yang mengangkat wacana pemakzulan Presiden, khususnya menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day).
Dalam keterangannya, PB PMII menilai bahwa kemunculan isu tersebut tidak dapat dilepaskan dari upaya pihak-pihak tertentu yang sengaja menghembuskan narasi untuk menciptakan instabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Hal ini dinilai berpotensi memicu eskalasi konflik sosial yang tidak produktif bagi kepentingan rakyat.
“Isu pemakzulan Presiden yang dimunculkan menjelang May Day patut diwaspadai sebagai bentuk provokasi. Kami mengimbau mahasiswa dan buruh agar tetap rasional serta tidak mudah terseret dalam agenda yang berpotensi merusak ketertiban umum,” tegas perwakilan PB PMII.
PB PMII juga mengingatkan bahwa pengalaman pada Agustus 2025 lalu menjadi pelajaran penting, di mana dinamika yang tidak terkendali berujung pada terganggunya stabilitas kamtibmas. Oleh karena itu, kewaspadaan kolektif dinilai sangat penting agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Lebih lanjut, PB PMII menegaskan bahwa May Day merupakan momentum strategis untuk menyuarakan aspirasi secara konstruktif, damai, dan bermartabat. Isu-isu kesejahteraan buruh harus tetap menjadi fokus utama, tanpa dicampuri agenda-agenda provokatif yang tidak relevan.
“Mahasiswa dan buruh adalah kekuatan moral bangsa. Jangan biarkan energi perjuangan dibajak oleh narasi yang justru mengarah pada instabilitas,” lanjutnya.
PB PMII pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga situasi tetap kondusif, memperkuat solidaritas, serta memastikan bahwa peringatan May Day berlangsung dengan aman, tertib, dan berorientasi pada solusi bagi kepentingan rakyat luas.





