Jakarta – Ketua BEM Pesantren Indonesia, Tomi Wijaya, menyampaikan kritik terhadap maraknya narasi pemakzulan Presiden Prabowo Subianto yang belakangan beredar di ruang publik. Ia menilai wacana tersebut tidak memiliki dasar yang kuat dan justru berpotensi menimbulkan kegaduhan yang tidak perlu di tengah masyarakat.
Dalam keterangannya, Tomi Wijaya menegaskan bahwa isu pemakzulan yang digaungkan saat ini lebih bersifat tendensius dan sarat kepentingan politik tertentu, bukan lahir dari proses konstitusional yang objektif dan rasional.
“Wacana pemakzulan Presiden yang berkembang saat ini tidak berdasar secara argumentatif. Ini lebih menyerupai upaya provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional,” tegas Tomi Wijaya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh elemen masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa dan pemuda, tidak mudah terpengaruh oleh narasi yang sengaja dibangun untuk memancing emosi publik. Menurutnya, kondisi seperti ini rawan dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang memiliki agenda politik jangka pendek.
“Kita harus bijak menyikapi setiap isu yang berkembang. Jangan sampai kita justru terjebak dalam kepentingan politik oposisi yang menginginkan terjadinya chaos di tengah masyarakat,” lanjutnya.
Lebih jauh, Tomi Wijaya menekankan pentingnya menjaga ruang demokrasi tetap sehat dengan mengedepankan rasionalitas, etika, serta kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pandangan. Kritik terhadap pemerintah, menurutnya, tetap sah selama disampaikan secara konstruktif dan berbasis data, bukan melalui narasi provokatif yang dapat memecah belah.
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama menjaga stabilitas dan kondusivitas nasional, serta memastikan bahwa setiap dinamika politik disikapi secara bijak demi kepentingan yang lebih besar, yaitu persatuan dan kemajuan Indonesia.





