Jakarta – Semangat Marsinah kembali menjadi sorotan sebagai simbol perlawanan abadi kaum buruh Indonesia terhadap ketidakadilan, penindasan, dan tuntutan upah layak. Sosok aktivis buruh perempuan yang gugur pada 1993 di Sidoarjo itu dikenal berani memimpin aksi mogok kerja untuk menuntut kenaikan upah pokok sebesar 20 persen, jaminan kesehatan, serta pemenuhan hak-hak dasar tenaga kerja.
Perjuangan Marsinah menegaskan bahwa hak buruh merupakan bagian dari hak asasi manusia yang tidak boleh diabaikan, apalagi dilanggar. Keberaniannya menjadi tonggak penting dalam sejarah pergerakan buruh Indonesia, khususnya dalam memperjuangkan sistem kerja yang lebih adil dan manusiawi.
Semangat tersebut kini terus hidup dan menginspirasi generasi baru aktivis buruh, termasuk Sunarti, seorang tokoh buruh yang aktif menyuarakan kepentingan pekerja. Sunarti menilai perjuangan Marsinah tetap relevan di tengah dinamika ketenagakerjaan saat ini, terutama terkait isu upah minimum, jaminan kesejahteraan, dan perlindungan hak-hak pekerja.
Menurut Sunarti, keberanian Marsinah juga menunjukkan peran penting perempuan dalam gerakan buruh, di mana suara mereka kerap hadir di garis depan meskipun menghadapi tekanan dari sistem yang tidak adil. Ia menegaskan bahwa perjuangan buruh bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga soal martabat dan keadilan sosial.
“Perjuangan Marsinah adalah pengingat bahwa hak pekerja tidak boleh dinegosiasikan dengan ketidakadilan,” demikian semangat yang terus dihidupkan dalam setiap langkah advokasi yang dilakukan para tokoh buruh saat ini.
Meskipun Marsinah telah gugur, warisan perjuangannya tetap menjadi inspirasi yang menguatkan gerakan buruh di Indonesia hingga hari ini.





