Jakarta — Peringatan Hari Lahir Pancasila dan Hari Kebangkitan Nasional 2026 menjadi momentum penting untuk memperkuat ideologi bangsa serta meneguhkan semangat persatuan menuju Indonesia Emas 2045. Kedua momentum tersebut dinilai memiliki semangat yang sama dalam menjaga keutuhan dan masa depan bangsa Indonesia.
Ketua DPD GMNI DKI Jakarta sekaligus Direktur Eksekutif Institut Marhaenisme 27, Deodatus Sunda Se menegaskan bahwa Pancasila harus terus diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar dihafalkan sebagai dasar negara.
“Semangat Hari Kebangkitan Nasional 2026 harus menjadi energi kolektif untuk memperkuat persatuan bangsa. Pancasila adalah jiwa yang mempersatukan Indonesia di tengah keberagaman,” ujar Deodatus di Jakarta.
Menurutnya, tantangan global, perkembangan teknologi, serta polarisasi sosial menjadi alasan pentingnya penguatan nilai-nilai kebangsaan, terutama bagi generasi muda. Karena itu, pendekatan terhadap Pancasila harus dilakukan secara kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Pancasila harus hadir dalam tindakan nyata seperti gotong royong, toleransi, menjaga persaudaraan, serta menolak kekerasan dan sikap yang memecah belah bangsa,” katanya.
Ia menambahkan, refleksi terhadap pidato Bung Karno dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945 harus menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia berada di tangan seluruh rakyat, dengan Pancasila sebagai pondasi utama menjaga demokrasi dan keutuhan NKRI.





