Geopolitik Yaman dan Narasi Anti-Habib

Ilustrasi Geopolitik Yaman
Ilustrasi Geopolitik Yaman

Oleh: Ayik Heriansyah

Jika penutupan Selat Hormuz oleh Iran “bikin klenger” dunia, apalagi ditambah dengan penutupan Bab al-Mandab yang notabene secara de facto dalam jangkauan kekuasaan Houthi sekutu Iran.

Banyak orang memandang Yaman hanya sebagai negara miskin yang terus dilanda perang saudara. Sebenarnya geopolitik Yaman sangat strategis karena menguasai Bab al-Mandab, jalur sempit yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Samudera Hindia.

Siapa pun yang memiliki pengaruh di kawasan ini sesungguhnya memegang salah satu “keran” perdagangan dunia. Jalur ini menjadi pintu utama menuju Terusan Suez yang dilalui kapal-kapal minyak, logistik, dan perdagangan internasional dari Asia menuju Eropa.

Ketika kelompok Houthi menyerang kapal-kapal yang melintas di Laut Merah, harga logistik internasional langsung melonjak. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Iran, Arab Saudi hingga Israel memiliki kepentingan langsung terhadap stabilitas kawasan tersebut. Yaman bukan lagi sekadar konflik lokal, melainkan bagian dari perebutan pengaruh global antara kekuatan Barat dan Timur Tengah.

Geopolitik postmodern tidak lagi pengandalkan perang militer dan ekonomi, tetapi juga melalui perang identitas, propaganda, dan perebutan pengaruh keagamaan. Dalam konteks dunia Islam, Yaman memiliki posisi yang sangat kuat karena menjadi salah satu pusat sejarah Islam tradisional, terutama melalui jaringan ulama Hadramaut yang selama ratusan tahun menyebarkan dakwah ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Jejak pengaruh Hadramaut di Indonesia sangat besar. Banyak habaib, ulama, dan jaringan dakwah tradisional di Nusantara berasal dari garis keilmuan dan migrasi Yaman. Tradisi maulid, sanad keilmuan, tarekat, hingga kultur pesantren tradisional memiliki hubungan historis dengan wilayah tersebut. Dalam konteks ini, figur Habib bukan sekadar masalah DNA, melainkan simbol otoritas keagamaan tradisional di tengah umat Islam Indonesia.

Karena itu, munculnya propaganda anti-Habib yang dilakukan sebagian kelompok atau ormas tertentu, termasuk yang sering dikaitkan dengan PWI LS, tidak dapat dibaca hanya sebagai polemik biasa. Di era perang informasi digital, serangan terhadap simbol keagamaan memiliki dampak sosial dan politik yang jauh lebih besar daripada sekadar perdebatan personal. Ketika simbol tradisional dilemahkan, maka legitimasi sosial kelompok yang bertumpu pada simbol tersebut ikut terganggu.

Permasalahan ini menjadi penting bagi Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai organisasi Islam tradisional terbesar di Indonesia, NU tumbuh dari kultur pesantren yang sangat dekat dengan tradisi sanad dan penghormatan kepada ulama, termasuk habaib. Walaupun NU bukan organisasi berbasis keturunan Arab, hubungan historis dan emosional antara warga NU dengan para Habib sudah terbentuk sejak lama melalui jaringan dakwah, pengajian, dan tradisi keagamaan.

Di sinilah propaganda anti-Habib berpotensi mempengaruhi NU secara langsung. Pertama, ia dapat memunculkan fragmentasi internal umat Islam tradisional. Polarisasi antara kelompok pro dan anti-Habib akan mengikis kohesi sosial di akar rumput. Kedua, ia dapat melemahkan otoritas simbolik Islam tradisional yang selama ini menjadi benteng moderasi umat di Indonesia.

Di era media sosial, legitimasi tidak lagi dibangun melalui kedalaman ilmu semata, tetapi juga melalui kemampuan membentuk opini publik. Kelompok-kelompok yang agresif di ruang digital mampu menciptakan framing bahwa simbol-simbol tradisional adalah bagian dari feodalisme agama atau kultus keturunan. Narasi semacam ini efektif mempengaruhi generasi muda yang tidak lagi memiliki kedekatan historis dengan tradisi pesantren.

Dari sini muncul dugaan tentang adanya kepentingan geopolitik global yang lebih besar. Israel dan jaringan pendukungnya selama ini sangat berkepentingan melemahkan solidaritas dunia Islam, terutama kelompok-kelompok Islam tradisional yang memiliki akar sosial kuat di masyarakat.

Politik fragmentasi identitas menjadi strategi yang efektif untuk memecah konsolidasi umat Islam dari dalam. Ketika umat sibuk bertarung soal simbol, garis keturunan, dan otoritas internal, maka perhatian terhadap isu-isu besar dunia Islam seperti Palestina menjadi melemah.

Bukan berarti setiap kelompok anti-Habib otomatis bagian dari agenda Zionis. Namun dalam geopolitik kontemporer, sebuah gerakan tidak harus sadar bahwa dirinya sedang dimanfaatkan oleh kepentingan global. Perang generasi baru bekerja melalui infiltrasi narasi, manipulasi opini, dan eksploitasi konflik internal masyarakat. Polarisasi yang terus diproduksi di media sosial pada akhirnya menciptakan kondisi yang menguntungkan pihak-pihak yang ingin melihat dunia Islam terus terpecah.

Lebih jauh lagi, polemik anti-Habib sebenarnya menyimpan pertarungan yang lebih besar, yakni upaya mendeskreditkan Yaman sebagai musuh Israel. Apa yang terjadi di Indonesia hari ini sesungguhnya tidak terpisah dari dinamika global dunia Islam.

Karena itu, NU menghadapi tantangan besar untuk menjaga kohesi umat di tengah meningkatnya polarisasi digital. Jika konflik identitas terus dipelihara, maka umat Islam Indonesia akan mudah terjebak dalam pertarungan internal yang melemahkan posisi sosialnya sendiri.

Ada benang merah antara positioning Yaman dalam konflik dengan Israel, dan propaganda anti-Habib. Ini menunjukkan bahwa krisis di Timur Tengah merembet ke persoalan perebutan makna, identitas, dan legitimasi keagamaan di Indonesia.

Pos terkait