SDR Nilai Aksi Mahasiswa soal Polri Miskin Gagasan

Direktur Eksekutif SDR Hari Purwanto
Direktur Eksekutif SDR Hari Purwanto

Jakarta – Direktur Eksekutif Studi Demokrasi Rakyat (SDR) , Hari Purwanto menyampaikan kritik terhadap arah pergerakan mahasiswa yang dinilai belakangan ini mulai mengalami pergeseran orientasi dan kehilangan pijakan moral dalam menjalankan fungsi kontrol sosial. Menurutnya, gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal sebagai kekuatan intelektual dan moral dalam kehidupan demokrasi justru semakin sering menampilkan aksi-aksi yang tidak mencerminkan karakter gerakan akademik yang rasional dan beradab.

Ia menilai bahwa aksi unjuk rasa merupakan bagian sah dari ruang demokrasi dan sejak dahulu menjadi instrumen penting bagi mahasiswa untuk menyampaikan aspirasi masyarakat. Namun dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah aksi yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa justru memunculkan keresahan di tengah masyarakat. Alih-alih menjadi saluran aspirasi rakyat, sebagian aksi tersebut justru terkesan tidak terarah, sarat provokasi, serta lebih menonjolkan ekspresi kemarahan dibandingkan argumentasi yang berbasis pada analisis yang matang.

Direktur Eksekutif SDR menyoroti bahwa fenomena ini terlihat dalam beberapa aksi demonstrasi yang mengangkat isu reformasi Polri. Dalam praktiknya di lapangan, sebagian aksi tersebut dinilai justru mempertontonkan perilaku yang tidak mencerminkan etika gerakan mahasiswa. Penggunaan simbol-simbol yang tidak pantas, narasi yang cenderung provokatif, hingga sikap yang miskin adab dinilai telah mengaburkan esensi gerakan mahasiswa yang selama ini dikenal dengan tradisi intelektual, argumentatif, dan menjunjung tinggi etika dalam menyampaikan kritik.

Menurutnya, kritik terhadap institusi negara, termasuk Polri, merupakan hal yang wajar dan bahkan penting dalam sistem demokrasi. Namun kritik tersebut harus disampaikan secara bermartabat, rasional, serta didasarkan pada kajian yang kuat. Ketika aksi mahasiswa justru menampilkan sikap yang niretika dan tidak mencerminkan nilai-nilai akademik, maka hal tersebut bukan hanya merugikan citra gerakan mahasiswa, tetapi juga berpotensi menghilangkan simpati publik terhadap substansi tuntutan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Ia menegaskan bahwa sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia dibangun di atas fondasi intelektualitas, moralitas, dan keberanian berpikir kritis. Gerakan mahasiswa selalu dihormati karena mampu menggabungkan idealisme dengan kedalaman analisis. Oleh karena itu, ketika aksi-aksi yang muncul saat ini justru terlihat miskin gagasan dan lebih menonjolkan ekspresi emosional, maka hal tersebut menjadi alarm penting bahwa ada sesuatu yang perlu dievaluasi secara serius dalam dinamika gerakan mahasiswa hari ini.

Direktur Eksekutif SDR juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab moral yang besar sebagai kelompok terdidik di tengah masyarakat. Setiap aksi yang dilakukan seharusnya tidak hanya bertujuan menyampaikan tuntutan, tetapi juga memberikan teladan dalam cara menyampaikan kritik yang santun, rasional, dan beradab. Tanpa itu, gerakan mahasiswa berisiko kehilangan legitimasi sosial yang selama ini menjadi kekuatan utamanya.

Karena itu, ia berharap ke depan gerakan mahasiswa dapat kembali kepada khitahnya sebagai gerakan intelektual yang berorientasi pada gagasan, analisis, dan keberpihakan pada kepentingan masyarakat luas.

“Kritik terhadap berbagai kebijakan atau institusi negara tetap diperlukan, tetapi harus dilakukan dengan cara yang mencerminkan integritas moral dan kecerdasan akademik yang selama ini menjadi identitas utama gerakan mahasiswa Indonesia.” pungkasnya.

Pos terkait