Tragedi Tual dan Urgensi Reformasi Internal Polri

Ilustrasi Pekerja
Ilustrasi Pekerja

Jakarta, 29 Maret 2026 – Sebuah kabar duka menyelimuti Tual, Maluku, saat seorang pelajar 14 tahun tewas di tengah kegiatan patroli aparat. Di tengah kesedihan itu, muncul seruan dari Serikat Pekerja agar Polri melakukan refleksi besar-besaran. Narasi yang dibawa adalah tentang harapan: bagaimana sebuah tragedi bisa menjadi katalisator bagi transformasi positif institusi kepolisian Indonesia.

Serikat Pekerja memandang bahwa profesionalisme Polri dipertaruhkan dalam menangani kasus-kasus sensitif seperti ini. Mereka mendorong pimpinan Polri untuk segera mengevaluasi sistem pelatihan pengendalian massa. “Pelatihan harus mampu membentuk mentalitas anggota yang sabar namun sigap, bukan yang reaktif dan impulsif,” ujar Irwan Rianto Bakara, Sekertaris Jenderal FSB NIKEUBA KSBSI. Keseimbangan antara ketegasan dan kemanusiaan adalah kunci yang harus terus diasah.

Selain pelatihan, mekanisme pengawasan internal menjadi sorotan. Ia menyarankan agar setiap tindakan penggunaan kekuatan harus diaudit secara otomatis untuk memastikan kesesuaian dengan SOP. “Hal ini akan menciptakan budaya organisasi yang bertanggung jawab, di mana setiap personel merasa diawasi dan didukung untuk berbuat benar sesuai aturan,” terangnya.

Semangat dari seruan ini adalah demi kebaikan bersama. Polri yang kuat adalah Polri yang dihormati karena integritasnya, bukan ditakuti karena kekuatannya. Dengan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap SOP dan budaya kerja, Polri diharapkan mampu mewujudkan visi sebagai pengayom masyarakat yang sesungguhnya. “Kejadian di Tual harus menjadi pelajaran terakhir, memastikan bahwa di masa depan, kehadiran polisi selalu membawa rasa aman bagi setiap warga, termasuk anak-anak,” pungkasnya.

Pos terkait