CIANJUR – Panglima Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Gerakan Reformis Islam (GARIS), Ustadz Asep Ahmad Bentara, yang akrab disapa Ustadz Abu Umar, memberikan pernyataan resmi terkait dinamika geopolitik global yang memanas akibat konflik antara Iran dan Israel. Beliau mengimbau seluruh elemen masyarakat, khususnya di wilayah Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi, untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh isu-isu yang dapat merusak persatuan di tingkat lokal.
Dalam keterangannya di Cianjur, Ustadz Abu Umar menekankan bahwa meskipun keprihatinan terhadap situasi di Timur Tengah adalah hal yang wajar bagi umat Islam, namun menjaga keamanan dan ketertiban di dalam negeri adalah kewajiban yang utama.
“Kami mengimbau kepada seluruh ikhwan dan masyarakat di Cianjur serta Sukabumi agar menyikapi situasi global ini dengan kepala dingin. Jangan sampai dinamika di luar sana memicu polarisasi atau tindakan intoleran di wilayah kita. Kedamaian di tanah kelahiran kita harus tetap menjadi prioritas,” ujar Ustadz Abu Umar.
Poin-Poin Utama Pernyataan Ustadz Abu Umar antara lain:
1. Mengutamakan Doa dan Solidaritas Positif: Mengajak umat untuk memperbanyak doa demi keselamatan warga sipil di zona konflik dan tidak melakukan aksi-aksi yang bersifat kontraproduktif di ruang publik.
2. Filter Informasi dan Anti-Hoaks: Meminta masyarakat waspada terhadap penyebaran berita boaks atau propaganda yang sengaja diembuskan untuk memicu kemarahan kelompok tertentu yang dapat mengganggu Kamtibmas (Keamanan dan Ketertiban Masyarakat).
3. Sinergi dengan Aparat: Menegaskan komitmen GARIS untuk terus berkoordinasi dengan pihak TNI-Polri dan pemerintah daerah guna memastikan wilayah Priangan Barat tetap aman dari pengaruh paham ekstremis yang memanfaatkan momentum konflik global.
4. Menjaga Toleransi Lokal: Ustadz Abu Umar menegaskan bahwa kerukunan antarwarga di Cianjur dan Sukabumi tidak boleh goyah. Tindakan intoleran dalam bentuk apa pun harus diminimalisir agar tidak memberi ruang bagi perpecahan.
5. Panglima GARIS ini juga menambahkan bahwa kekuatan utama bangsa Indonesia adalah persatuan. Dengan menjaga kondusifitas di daerah, masyarakat secara tidak langsung telah membantu pemerintah untuk fokus pada peran diplomasi perdamaian di tingkat internasional.
“Cianjur dan Sukabumi adalah wilayah yang religius namun juga cinta damai. Mari kita buktikan bahwa kita bisa tetap bersaudara di tengah situasi dunia yang sedang tidak menentu,” tutupnya.





