Reformasi Polri Disorot, CMMI Tekankan Kritik yang Rasional

Logo CMMI
Logo CMMI

Jakarta – Ketua Umum Cendekia Muda Muslim Indonesia (CMMI), Anhar Tanjung, menyayangkan maraknya aksi dan gerakan yang dilakukan oleh sejumlah elemen pemuda dan mahasiswa yang mengatasnamakan tuntutan reformasi Polri, namun dinilai mulai kehilangan arah dalam penyampaiannya. Menurutnya, kritik terhadap institusi negara tentu merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi harus disampaikan dengan cara yang objektif, proporsional, serta tetap menjunjung etika dalam ruang publik.

Anhar Tanjung menilai bahwa sebagian aksi yang terjadi belakangan ini justru menunjukkan kecenderungan menggunakan standar ganda dalam melihat persoalan sektor keamanan. Ia menyoroti bagaimana isu represivitas aparat terus dikaitkan dengan kasus kekerasan oknum Brimob di Tual, yang hingga kini masih dijadikan bahan mobilisasi aksi, padahal kasus tersebut telah ditangani secara cepat dan tegas oleh institusi Polri dengan menjatuhkan sanksi pemecatan kepada oknum yang terlibat.

Menurutnya, langkah tegas tersebut seharusnya menjadi bukti bahwa mekanisme akuntabilitas di tubuh Polri sedang berjalan dan menjadi bagian dari proses reformasi internal. Namun demikian, ia melihat sebagian kelompok masih terus mengangkat kasus tersebut secara berulang tanpa memperhatikan fakta bahwa proses penegakan hukum sudah dilakukan secara terbuka.

Lebih lanjut, Anhar juga menyoroti bahwa dalam sejumlah kasus kekerasan yang melibatkan aparat militer di berbagai daerah, respons dan sorotan dari kelompok yang sama justru tidak sekuat ketika kasus tersebut melibatkan Polri. Kondisi ini, menurutnya, menimbulkan kesan bahwa sebagian gerakan sedang menggunakan narasi yang tidak konsisten dalam mengawal agenda reformasi sektor keamanan.

Di sisi lain, Anhar Tanjung juga mengkritik pola aksi unjuk rasa yang belakangan dinilai semakin jauh dari tradisi intelektual gerakan mahasiswa. Ia menilai beberapa aksi dilakukan dengan cara-cara yang nir etika dan miskin adab, sehingga tidak lagi merepresentasikan semangat moral dan intelektual yang selama ini menjadi ciri khas gerakan mahasiswa di Indonesia.

“Gerakan pemuda dan mahasiswa seharusnya menjadi ruang lahirnya gagasan dan kritik yang bermartabat, bukan sekadar mobilisasi emosi yang kehilangan arah. Reformasi sektor keamanan harus dikawal secara objektif, tanpa standar ganda, serta disampaikan dengan cara-cara yang mencerminkan kedewasaan intelektual,” ujar Anhar Tanjung.

Cendekia Muda Muslim Indonesia berharap agar ruang kritik terhadap institusi negara tetap dijaga dalam koridor rasionalitas, etika, dan konsistensi, sehingga gerakan pemuda dan mahasiswa benar-benar mampu menjadi kekuatan moral yang konstruktif dalam proses perbaikan bangsa.

Pos terkait