Jakarta – Koordinator Pusat SEMA PTKIN Seluruh Indonesia, Muhammad Rafli, mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan waspada terhadap derasnya arus informasi di era digital. Dalam kampanye bertajuk “Dari Masyarakat untuk Masyarakat”, ia menegaskan bahwa hoaks, propaganda, hingga ujaran kebencian kini menjadi ancaman nyata bagi persatuan bangsa.
Menurut Muhammad Rafli, tidak semua informasi yang viral dapat dipercaya. Ia menekankan bahwa fenomena banjir informasi saat ini telah menciptakan ruang yang rawan disusupi kepentingan tertentu, bahkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk menggiring opini publik.
“Hoaks hari ini bukan sekadar kabar bohong, tapi sudah menjadi alat untuk memecah belah masyarakat dan melemahkan kepercayaan publik,” tegasnya.
Ia juga menyoroti ironi di tengah masyarakat, di mana banyak individu tanpa sadar turut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Kebiasaan membagikan konten tanpa mengecek sumber dinilai menjadi salah satu faktor utama masifnya penyebaran disinformasi.
Muhammad Rafli menekankan bahwa berpikir kritis dan melakukan verifikasi informasi bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban di era digital. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih bertanggung jawab dalam bermedia sosial.
Melalui pesan kuat “Jangan Jadi Alat, Jangan Jadi Korban”, ia berharap masyarakat Indonesia tidak bersikap reaktif, tetapi mampu menjadi pribadi yang sadar, cerdas, dan bijak dalam menyikapi setiap informasi yang diterima.
“Kita harus memastikan bahwa informasi yang kita konsumsi dan bagikan adalah benar. Karena dari masyarakat, untuk masyarakat, kebenaran harus menjadi kekuatan kita bersama,” tutup Muhammad Rafli.





