Konferensi SMI: Demokrasi, Kapitalisme, hingga Peran Politik Anak Muda

Konferensi Social Movement Institute SMI
Konferensi Social Movement Institute SMI

Jakarta – Konferensi bertajuk “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda” yang diselenggarakan oleh organisasi Social Movement Institute (SMI) menyoroti berbagai isu sosial-politik nasional, mulai dari meningkatnya militerisme, program pemerintah, hingga peran generasi muda dalam menjaga demokrasi. Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan launching Festival Jalan Pedang yang disebut sebagai ruang ekspresi politik dan kebudayaan.

Dalam forum tersebut, Delpedro selaku aktivis HAM menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki jiwa nasionalisme dan keberanian untuk menyuarakan kritik terhadap kondisi bangsa. Mereka menilai situasi politik saat ini menunjukkan gejala menguatnya militerisme dalam pemerintahan, termasuk keterlibatan aparat militer di sektor pendidikan dan pembangunan wilayah.

Tiyo Ardiyanto juga menyoroti sejumlah program pemerintah, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan di lapangan. Beberapa peserta menyampaikan keprihatinan atas kasus dugaan keracunan makanan serta kebijakan pengalihan anggaran daerah untuk mendukung program prioritas pemerintah pusat, termasuk MBG dan Koperasi Desa Merah Putih.

Dalam diskusi tersebut, kritik juga diarahkan kepada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terkait kondisi ekonomi nasional dan pelemahan nilai tukar rupiah. Sejumlah peserta menilai pemerintah belum memberikan penjelasan yang memadai mengenai langkah strategis menghadapi situasi ekonomi saat ini.

Para pembicara turut mengajak generasi muda untuk memperkuat persatuan gerakan mahasiswa dan masyarakat sipil. Mereka menilai reformasi yang berlangsung sejak 1998 belum sepenuhnya tuntas dan perlu diperjuangkan kembali melalui konsolidasi gerakan anak muda dan perguruan tinggi.

Selain membahas isu politik praktis, forum tersebut juga mengangkat pembahasan teoritis mengenai kapitalisme dan demokrasi. Sejumlah pemikir seperti Nancy Fraser, Anthony Giddens, Zygmunt Bauman, Francis Fukuyama, dan Richard Rorty disebut dalam pemaparan materi diskusi. Para pembicara menilai bahwa politik alternatif di tengah sistem kapitalisme semakin melemah dan masyarakat cenderung kehilangan imajinasi terhadap perubahan sosial.

Festival Jalan Pedang yang diluncurkan dalam kegiatan tersebut disebut sebagai bentuk pengingat terhadap sejarah politik dan praktik kekuasaan. Penyelenggara menegaskan bahwa sejarah tidak boleh dilupakan dan generasi muda perlu terus menjaga ruang kritik terhadap kekuasaan.

Pos terkait