Refleksi Pendidikan Tamansiswa: Dari Sejarah hingga Tantangan Pendidikan Modern

Diskusi Tamansiswa Dan Gerakan Kebangkitan Pendidikan
Diskusi Tamansiswa Dan Gerakan Kebangkitan Pendidikan

Jakarta – Agenda diskusi bertajuk “Tamansiswa dan Gerakan Kebangkitan Pendidikan” digelar oleh SMI bekerja sama dengan Taman Bambu sebagai rangkaian penutup kegiatan jalan-jalan sejarah yang diselenggarakan SMI. Kegiatan tersebut mengangkat kembali nilai-nilai pendidikan Tamansiswa serta pemikiran Ki Hadjar Dewantara di tengah tantangan dunia pendidikan saat ini.

Rangkaian kegiatan diawali dengan rute perjalanan sejarah menuju sejumlah titik penting perkembangan pendidikan Tamansiswa, mulai dari gedung eks sekolah pertama Tamansiswa, Pura Pakualaman, Museum Ki Hadjar Dewantara, Makam Ki Hadjar Dewantara, hingga Pendopo Agung Tamansiswa. Setelah kegiatan napak tilas sejarah tersebut, acara dilanjutkan dengan diskusi publik yang menghadirkan sejumlah tokoh budaya dan sejarah.

Budayawan sekaligus alumnus Tamansiswa, Butet Kertarajasa, menyampaikan bahwa dirinya banyak mempelajari nilai-nilai ketamansiswaan yang menurutnya tidak ditemukan di sekolah lain. Ia mengenang bagaimana konsep pendidikan di Tamansiswa mengajarkan kemerdekaan dalam belajar dan membentuk karakter kebangsaan.

“Di Tamansiswa saya mempelajari ketamansiswaan yang tidak diajarkan di sekolah lain. Konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara menunjukkan pendidikan yang merdeka dalam belajar,” ujar Butet.

Menurutnya, sosok Ki Hadjar Dewantara juga menjadi teladan karena memilih jalan sebagai pendidik meski berasal dari kalangan bangsawan. Nilai tersebut dinilai penting untuk kembali dibahas di tengah perubahan orientasi pendidikan saat ini.

Sementara itu, sejarawan JJ Rizal menilai cerita dan pengalaman yang disampaikan Butet merupakan bagian penting dari sejarah perkembangan gerakan pendidikan dan mahasiswa di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa lambang Tamansiswa yang berbentuk Burung Garuda melambangkan kebebasan dan kemerdekaan, sedangkan simbol cakra merepresentasikan kebijaksanaan.

“Orang dihargai karena kebijaksanaannya, bukan karena kebangsawanannya. Nasionalisme dalam Tamansiswa menjadi dasar penting,” kata JJ Rizal.

Ia juga menegaskan bahwa Tamansiswa memiliki kontribusi besar dalam perkembangan demokrasi Indonesia melalui tiga prinsip utama, yakni berkedaulatan dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

Dalam kesempatan yang sama, Founder SMI Eko Prasetyo mengaku senang dengan terselenggaranya kegiatan tersebut karena dinilai penting untuk kembali menghidupkan diskusi mengenai pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara. Ia menyoroti kondisi pendidikan saat ini yang dinilai semakin menjauh dari semangat pendidikan kerakyatan.

“Bangsa yang kehilangan sejarah akan dihukum oleh masa depan,” ujar Eko.

Ia menilai Yogyakarta perlahan mulai kehilangan jejak sejarah pendidikan karena banyak sekolah kini lebih berorientasi pada kompetisi dan komersialisasi. Menurutnya, berkembangnya sekolah internasional turut mendorong pendidikan menjadi semakin mahal dan hanya dapat diakses kelompok tertentu.

“Komersialisasi pendidikan menghina dasar pendidikan Tamansiswa. Orang kaya menjadi semakin elit karena bisa mengakses pendidikan internasional yang membutuhkan biaya besar,” katanya.

Eko juga menegaskan bahwa filosofi pendidikan Tamansiswa yang menekankan kemerdekaan belajar, kepekaan sosial, serta pembentukan karakter nasionalis dan Pancasilais kini mulai banyak dilupakan. Karena itu, ia berharap diskusi seperti ini dapat menjadi pengingat pentingnya menjaga nilai-nilai pendidikan yang diwariskan Ki Hadjar Dewantara.

Pos terkait