Jakarta – Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jakarta (DPM UMJ) menyerukan seluruh elemen pemuda dan mahasiswa untuk tetap menempatkan kepentingan rakyat sebagai orientasi utama gerakan. Kritik terhadap kebijakan pemerintah merupakan bagian penting dari kehidupan demokrasi, namun kekuatan kritik ditentukan oleh substansi, data, dan konsistensi perjuangan—bukan oleh seberapa gaduh situasi yang berhasil diciptakan.
DPM UMJ menilai mahasiswa harus mampu membedakan antara gerakan kritis dengan gerakan yang sekadar reaktif. Ketika aksi kehilangan substansi dan berubah menjadi tindakan anarkis, pesan perjuangan justru tenggelam. Isu yang seharusnya menjadi perhatian publik bergeser menjadi persoalan kericuhan, sementara tuntutan rakyat kehilangan ruang untuk didengar.
Karena itu, setiap upaya provokasi yang mendorong benturan, perusakan, maupun tindakan kontraproduktif harus dihindari. Anarkisme bukan keberanian, dan kericuhan bukan ukuran militansi. Gerakan mahasiswa harus menunjukkan kedewasaan politik melalui argumentasi yang kuat, disiplin aksi, serta keberanian menjaga perjuangan tetap berada pada koridor kepentingan publik.
DPM UMJ juga mengingatkan pentingnya menjaga independensi mahasiswa dari kepentingan politik praktis. Momentum aksi tidak boleh menjadi ruang bagi pihak tertentu untuk menitipkan agenda dan memanfaatkan energi mahasiswa sebagai instrumen pertarungan kekuasaan. Mahasiswa harus berdiri di atas kepentingan rakyat, bukan menjadi kepanjangan tangan kepentingan elite.
Sikap kritis terhadap pemerintah tetap harus dipertahankan ketika terdapat kebijakan yang dinilai tidak efektif atau belum menjawab kebutuhan masyarakat. Namun kritik tersebut harus disampaikan secara intelektual, terukur, dan bertanggung jawab. Ketajaman gerakan bukan terletak pada kerasnya benturan di jalan, melainkan pada kemampuan membangun argumentasi yang sulit dibantah dan tuntutan yang memiliki dasar kuat.
DPM UMJ mengajak seluruh elemen mahasiswa menjaga marwah gerakan sebagai kekuatan moral dan intelektual. Tetap kritis tanpa kehilangan kendali, tetap militan tanpa menjadi anarkis, dan tetap independen tanpa mudah ditunggangi. Sebab ketika gerakan kehilangan arah, yang diuntungkan bukan rakyat melainkan mereka yang berkepentingan memanfaatkan kegaduhan.





